Almagfurlah KH. Ahmad Fauzi: Kesederhanaan Yang Dibalut Keikhlasan

Almaghfurlah KH. Ahmad Fauzi adalah salah satu sosok yang berperan penting dalam perjalanan awal dan eksistensi Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi. Keberadaannya tidak pernah bisa dilepaskan dari Al-Mizan terutama pada masa-masa awal pendirian Al-Mizan.

KH. Ahmad Fauzi lahir di “Kota Udang” Cirebon pada 08 Juli 1955. Ustadz Ozi atau Kyai Fauzi, demikian panggilan akrabnya, merupakan putra sulung dari tiga bersaudara pasangan KH. Ilyas dan Hj. Tasmiroh, adiknya Kharis Nasution dan Ummu Aiman.

Almaghfurlah Kyai Fauzi bersama istrinya Hj. Minatul Maula, kelahiran Cisambeng 30 Oktober 1960, adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudatul Mubtadi’in Cisambeng yang didirikan oleh almaghfurlah Kyai Muhammad. Kyai Fauzi sendiri merupakan generasi penerus keenam pesantren tersebut.

Sekitar tahun 80-an Kyai Fauzi berkenalan dengan keluarga besar Langensari, Abah Kosim dan Mimi Ummi Kultsum serta putra-putrinya. Kyai Fauzi merupakan guru besar yang atas jasa beliau putra-putri keluarga Langensari memperoleh pendidikan keagamaan yang baik dan bersama-sama merintis Pondok Pesantren Al-Mizan saat itu.

Ayah dari empat anak, yakni Abdullah Amin, Agus Rofic, Liha Malihatul Ulfah dan Ibnu Hajar itu, merupakan sosok yang sederhana. Pembawaannya kalem, humoris, mudah bergaul dan ramah. Kehidupannya sehari-hari beliau isi dengan kegiatan mengasuh berbagai pengajian termasuk majlis taklim Al-Mizan, mengajar di Pondok Pesantren atau di sekolah, ziarah-berwisata rohani serta berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya. Moto hidupnya Menolong dan berbuat baik kepada orang lain lillahita’ala,

“Berbuat baiklah kepada orang lain, meskipun orang tersebut tidak melakukan apa-apa kepada kita”. Ujarnya.

Kyai Fauzi dikenal bukan tipe orang yang berorientasi kepada nilai nominal. Sosok yang langka kita temui di zaman sekarang. Kehidupannya mengalir dan dijalani dengan keikhlasan dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT setelah berikhtiar atau berusaha.

Kesederhanaan seorang KH. Ahmad Fauzi juga tersirat dalam sikap kesehariannya. Ia dikenal sebagai sosok yang ramah & akrab dengan siapapun dari kalangan manapun tanpa membeda-bedakan. Kya Fauzi merupakan tokoh agama dan tokoh masyarakat yang dikenal “low profile” namun mengakar kuat di kalangan bawah, terutama jamaah pengajian Nahdiyyin : Muslimat dan Fatayat NU, dan jamaah majlis-majlis taklim.

KH. Ahmad Fauzi merupakan guru bagi siapapun. Bukan hanya guru bagi para santri dan siswa-siswinya, tapi merupakan guru bagi masyarakat sekitarnya. Beliau telah mampu menghasilkan murid-murid yang cukup dikenal dan berpengaruh, seperti KH. Maman Imanulhaq, Hj. Ufiq Rofikoh, Hj. Dede Masitoh, dan murid-murid lain yang tersebar di mana-mana.

Bersama-sama dengan Istrinya Hj. Minatul Maola, perempuan aktivis Nahdlatul Ulama (NU) yang telah berkecimpung lama dalam ormas keagamaan, semasa hidupnya, Kyai Fauzi, seperti tak kenal waktu dan tak kenal lelah mau bersedia menampung curhat orang yang membutuhkan, tanpa kecuali. Di tengah kesibukannya, masih tetap bisa membagi waktunya untuk keluarga dan membantu umat.

Semasa hidupnya, KH. Ahmad Fauzi aktif dengan rutinitas mengisi berbagai pengajian dan mengasuh para santri di pesantrenya, selain berprofesi sebagai guru di MTs. Syafi’iyah dan MA. Manba’ul Huda Cisambeng.

Dengan kesederhanaan, keilmuan & pergaulannya yang bisa diterima oleh semua kalangan, Almaghfurlah KH. Ahmad Fauzi menjadi sosok tauladan yang inspiratif.

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.