Bendera Merah Putih Amanat Rasulullah Melalui Mimpi Guru Tua Habib Idrus bin Salim al Jufri

Mari kita flashback ke tahun 2017 atau tepatnya dua tahun lalu. Mengambil tempat di halaman Masjid Agung Kota Blitar, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kota Blitar menggelar acara Kajian Aswaja dan Bela Negara.

Acara itu mengusung tema Satukan Langkah Membangun Negeri Menjaga NKRI. Narasumber yang dihadirkan di antaranya adalah dari KH. Adnan Anwar (PBNU) dan Dr. Ainur Rofik (Penulis buku Membongkar Proyek Khilafah)

Pada acara tersebut, KH. Adnan Anwar mengungkap bahwa ulama Nusantara sudah meracik konsep NKRI jauh sebelum Indonesia merdeka, yakni tahun 1783 M. Indonesia merdeka tahun 1945, jadi ada jarak 162 tahun lamanya. Dokumen tersebut merupakan hasil Bathsul Masail di Masjid Baiturrahman Aceh. Isi dokumen itu menyebutkan bahwa jika Nusantara ini menjadi negara, maka namanya adalah al Jumhuriyah al Indonesia.

“Saya sudah melacak berbagai dokumen dari Aceh sampai Pattani Thailand, bahkan ke perpustakaan di Berlin menemui Profesor Bastian bahwa nama Indonesia baru ditemukan oleh Barat tahun 1892. Padahal nama Indonesia sudah ada pada  tahun 1783 dan dibentuk oleh ulama-ulama di Aceh,” ungkap Kiai Adnan Anwar.

Data yang disampaikan oleh Kiai Adnan tersebut benar adanya. Bangkitmedia menemukan fakta bahwa nama Indonesia mulai dimunculkan oleh Barat pada medio tahun 1800-san. Seperti dilansir Kompas.com, menurut sejarawan Universitas Oxford, Peter Carey, nama Indonesia muncul dan diperkenalkan James Richardson Logan (1819-1869) tahun 1850 dalam Journal of Indian Archipelago and Eastern Asia. Padahal, berdasarkan data dari Kiai Adnan, nama Indonesia sudah muncul tahun 1783 M.

KH Adnan Anwar juga mengatakan bahwa NKRI sudah sangat islami karena banyak ulama terlibat dalam pembuatan konsepnya.

“Habib Idrus Salim Al Jufri,  pendiri Al Khairaat di Kota Palu (Sulawesi Tengah) yang juga adik kelas Mbah Hasyim Asyari  mengatakan bahwa beliau pernah bermimpi Nabi Muhammad Saw dan pesan dalam mimpi itu adalah nanti kalau Indonesia merdeka benderanya adalah Merah Putih,” tambah Kiai Adnan.

Bahkan Muktamar NU tahun 1937 atas pesan Habib Idrus Salim Al Jufri, Mbah Hasyim Asyari  mengusulkan bahwa bendera Indonesia adalah Merah Putih dan Soekarno adalah pemimpinnya.

“Ulama-ulama kita sangat cinta NKRI. Mbah Hasyim Asyari sering menangis ketika menyanyikan Indonesia Raya. Bahkan, ada pencipta lagu nasional Indonesia yang berasal dari habib atau ulama. Makanya jika ada yang ingin mengganti Indonesia dengan negara Islam atau khilafah, maka sesungguhnya mereka tidak belajar sejarah dan mengingkari perjuangan dari ulama-ulama Nusantara,” tandas Kiai Adnan.

Berdasarkan catatan Bangkitmedia, habib atau keturunan Rasulullah yang menciptakan lagu nasional adalah Habib Haji Muntahar. Tokoh dengan nama lengkap Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar ini menciptakan beberapa lagu nasional, di antaranya, Hari Merdeka, Hymne Indonesiaku dan Dirgahayu Indonesiaku.

Selain habib, ada juga lagu-lagu kebangsaan yang diciptakan oleh para kiai dari kalangan pesantren. Seperti misalnya, KH. Wahab Chasbullah menciptakan lagu kebangsaan Syubbanul Wathon (pemuda cinta tanah air) atau yang terkenal dengan sebutan Yaa Lal Wathon. Atau juga KH. R. Asnawi Kudus yang melahirkan syi’ir kemerdekaan yang masyhur di kalangan santri Kudus.

Berdasarkan data-data tersebut, tentu sudah jelas bahwa NKRI sangat islami karena pengkonsepnya adalah para ulama. Oleh karena itu, mari kita syukuri keberadaan NKRI sebagai sebuah negara kesatuan yang menyatukan berbagai suku bangsa. Jangan sampai warisan para ulama ini kita rusak. Para ulama sudah mewariskan, saatnya kita melestarikan. Menjadi muslim kaffah, tak harus mendirikan khilafah atau NKRI Bersyariah! Mari kibarkan bendera merah putih, bukan bendera lain! (Rokhim)

Sumber: Bangkit Media

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.