Bertemu Wajah Gus Dur di Majalengka

Penulis: Hening Ratri
(Tulisan ini adalah Refleksi Peringatan 100 hari Wafatnya Gus Dur pada 08 April 2010 di Pondok Pesantren Al-Mizan)

Siang begitu panas, ketika rombongan kecil saya memasuki halaman pondok pesantren Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. Kedatangan saya kali ini bersama rombongan disambut dengan sangat meriah oleh seluruh santri, guru dan beberapa tamu undangan.

Mereka berjajar sepanjang lorong menuju pesantren untuk berjabat tangan dengan tamu yang datang. Berjabat tangan dan menempelkan di pipi, itu hal yang saya temui di tempat ini. Baik santri putri dan putra bersalaman dengan semua tamu dan melakukan hal yang sama.

Bertepatan dengan 100 hari meninggalnya Gus Dur, 08 April 2010 berbagai rangkaian acara digelar di pondok pesantren yang didirikan oleh orang KH. Maman Imanulhaq.

Kedekatannya dengan sosok Gus Dur telah mengantarkan Kang Maman, demikian sebutan akrabnya menghadirkan segenap perhatiannya untuk membawa ruh Gus Dur kedalam pondok pesantrennya.

Hal ini tercermin dari gelaran acara yang diusung kali ini, sejak pagi para santri mengikuti berbagai perlombaan, seperti cerdas cermat agama untuk menggali nilai-nilai agama.

Namun nilai seni yang dibalut dengan nuansa religius juga dimunculkan lewat lomba khasidah. Saya sempat mencari-cari suara merdu anak-anak menyanyi, ternyata di dalam kompleks pondok berdiri panggung. Tak canggung para santri tersebut menari mengikuti irama musik khasidah.

“Sejak pagi teh, acara ini diikuti oleh berbagai perwakilan sekolah dibsekitar Majalengka. Sebelumnya tadi pagi ada donor darah juga digedung itu,” kata Wahyudin, salah satu santri putra yang ternyata memperhatikan keberadaan saya dari tadi.

Saya terdiam sesaat sebelum melanjutkan pertanyaan lagi, karena tak segan santri tersebut menjabat tangan saya. Oh, sirna sudah bayangan saya tentang mereka yang tak mau berjabat tangan dengan orang lain, apalagi berbeda jenis kelamin dan agama.

“Teteh datangnya sudah sore, coba kalau dari pagi bisa berkeliling dulu ke kebun jambu kami, itu di seberang lapangan. Kalau sedang panen sampai pohonnya hampir patah”. Saya masih manggut-manggut mendengar cerita santri tersebut.

“Kebetulan saya sedang tak ada kuliah teh, jadi bantuin acara ini dari kemarin”. Rupanya ia adalah Mahasiswa yang berkampus di Cirebon.

Sekilas gambaran santri tersebut mengingatkan saya pada sebuah ketulusan tak bertepi. Mereka menyapa dan bahkan menerima semua orang yang datang tanpa pernah bertanya siapa atau agamanya apa?.

Gus Dur yang malam ini akan dihadirkan dalam sosok doa dan lantunan zikir ternyata telah menjelma diantara para santri Al-Mizan. Sebuah kenyamanan yang saya rasakan kembali terasa ketika saya bertemu dengan beberapa Banser NU di sana, olala…banser itu masih ada.

Konyol mungkin, tetapi begitulah selama ini saya di Jakarta sulit untuk bertemu mereka. Atau bahkan saya anggap mereka telah habis bersama waktu.

Gus Dur bagi saya telah menjelma di ruang-ruang pondok pesantren, muncul diantara wajah-wajah ramah yang saya temui. Dari semua keluarga pesantren hingga tamu-tamu yang datang. Gus Dur memang sebuah semangat, sebuah tindakan dan sebuah pemahaman.

Sebuah keheranan sempat muncul lagi ketika acara diskusi yang menghadirkan GKR Hemas, Pdt. Emmy Sahertian dan Nia Sjarifudin akan dimulai. Lagu Indonesia Raya menggema diruangan yang dipenuhi oleh ibu-ibu pengajian.

Santri putri berjajar di depan dan mulai menyanyikan Indonesia Raya dengan lantangnya. Belum habis rasa heran saya disusul dengan Mars Al-Mizan diiringi organ. Ternyata Mars yang mereka nyanyikan bukan dengan bahasa arab seperti bayangan saya, tetapi dengan bahasa Indonesia dan diiringi bukan dengan rebana tapi dengan organ.

Saya benar-benar merasakan nuansa yang jauh dari seram dan sangar seperti yang pernah terlihat di aksi-aksi sebuah ormas agama baru-baru ini. Atau kesan sangar dari beberapa ormas yang setiap rabu di mahkamah konstitusi, semuanya tak saya temui hari itu. Mereka ternyata tidak alergi menyanyi, meskipun ada beberapa ulama yang pernah saya dengar melarang nyanyian karena dianggap kafir.

Saya kemudian bertambah heran, karena tema diskusi yang diangkat kali ini adalah menguak jati diri perempuan Indonesia.

Bayangkan disebuah pesantren hal ini di kupas, selama ini saya melihat berita dialog-dialog di TV yang mengatakan bahwa perempuan itu tak boleh tampil di depan.

Mereka hanya boleh mengurus anak dan berbakti pada suami, menyambut suami pulang kerja. Hanya ranah domestik yang selama ini saya dengar. Bahkan dari sebuah film saya juga menyaksikan bahwa di sebuah pesantren perempuan tak boleh berbicara soal haknya, karena telah diatur oleh kaum lelaki.

Di sinilah saya menyaksikan sendiri bahwa ruang lingkup perempuan bukan hanya ranah domestik saja tetapi di luar rumah mereka juga boleh beraktifitas. Bahkan seorang santri malah sempat bertanya pada GKR Hemas, apa kiatnya menjadi seorang Dewan Perwakilan Daerah?. Sebuah pertanyaan yang luar biasa, ternyata mereka juga memiliki keinginan untuk tampil di ruang-ruang publik. Dan pesantren memfasilitasi pemahaman tersebut.

Menurut Kang Maman, perempuan adalah pilar bangsa dan penjaga bumi pertiwi ini, jadi mereka hendaknya menjadi perempuan yang cerdas pandai dan kuat. Bagaimana mendidik bangsa ini jika mereka lemah, jika mereka tak memahami situasi di luar rumah?. Hal inilah yang terus ditanamkan dalam kehidupan pesantren dan ditunjukkan dengan memberikan peluang kepada istrinya untuk berkiprah di luar rumah, sebagai guru dan aktivis di NU Majalengka.

Gus Dur memang telah meninggalkan kita, namun menghadirkannya dalam ruang-ruang publik harus terus dilakukan. Hal ini untuk menghidupkan kembali sebuah semangat dan pemahaman bahwa menjadi seorang muslim itu harus ramah, cerdas, menghargai perempuan. Memberikan ruang-ruang publik untuk kaum perempuan agar cerdas dan terdidik tanpa kehilangan jati dirinya sebagai perempuan Indonesia.

Gus Dur telah melakukan itu dibdalam kehidupannya dan selayaknya bagi kita semua yang sangat mengaguminya mewariskan pemahaman tersebut keruang-ruang terbatas seperti pesantren, sekolah kelompok diskusi agama agar ruh beliau selalu hidup.

Jangan katakan mengagumi Gus Dur bila diskriminasi masih dipelihara, membedakan suku, agama, gender dalam kehidupan. Jangan katakan meneladani Gus Dur bila di dalam hati kita masih tersisa pikiran bahwa mayoritas berhak menindas siapa saja.

Senja mulai redup ketika suara adzan menggema di lingkungan pesantren, diiringi lambaian tangan dan jabat erat mereka semua saya pamit untuk melanjutkan perjalanan. Saya melihat senyum mereka adalah sebuah spirit untuk Indonesia lebih damai, mungkin akan dimulai dari Majalengka.

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.