Geneologi Keilmuan Pesantren Tersambung Ke Rasulullah

Solo, almizanjatiwangi.or.id

Tradisi keilmuan pesantren memiliki geneologi keilmuan yang jelas. Sanad atau mata rantai guru dan murid tersambung dari Kyai sampai ke Rosulullah SAW. Inilah kekhasan keilmuan pesantren yang membedakan dengan lembaga pendidikan umum.

Demikian diungkapkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka, KH. Maman Imanulhaq, Saat memberikan Tausiah dalam rangka Haul KH. Dimyathi Tremas & Khotaman Al-Qur’an di Pesantren Al-Quraniyyah Mangkuyudan, Surakarta, pada Sabtu (14/09).

Aktvis Muda NU yang akrab disapa Kang Maman itu, menyebutkan jika Keilmuan yang diajarkan oleh Kyai di pesantren kepada para santrinya itu jelas jalur keilmuannya sampai ke Rosulullah.

“Jadi belajar di pesantren itu dijamin tidak akan sesat fikir dan sesat pemahaman, sebab gurunya punya sanad ilmu yang jelas”, paparnya.

Sebagai contoh, Kang Maman memaparkan Geneologi Keilmuan Mbah Dimyathi.

Jika dirunut, sanadnya berasal dari KH. Abdul Manan Dipomenggolo Tremas, kakek dari Syaikh Mahfudz Attarmasi di Al Azhar Mesir sekitar tahun 1850 M.

Selama di Negeri Piramid, beliau berguru kepada Grand Syeikh ke-19, Ibrahim Al Bajuri.

KH. Manan melahirkan KH. Abdullah melahirkan KH. Mahfud Attarmasi. Pemegang Sanad Shohih Buchori.

Pada waktu mengajar di Masjidil Haram, KH. Mahfud Attarmasi, kebanyakan murid beliau berasal dari Jawa, antara lain saudara-saudaranya sendiri, seperti KH. Dimyathi, K. Dahlan, dan K. Abdul Rozaq.

Terdapat juga tokoh-tokoh lain, seperti : KH. Hasyim Asy’ari dari Tebuireng Jombang, KH.Wahab Hasbulloh Tambakberas, KH. Bisri Syansuri Denanyar, KH. Baidlowi Lasem, KH. Ma’sum Lasem, KH.Kholil Lasem, KH. Abbas Jamil Buntet Cirebon, KH. Dahlan dari Watucongol Muntilan, Raden Mas Kumambang dari Surabaya, KH.Raden Asnawi Al Hafidz Kudus dan lain sebagainya.

“setelah pulang ke Jawa, mereka kemudian menjadi ulama-ulama besar di daerahnya masing-masing. Bahkan, KH. Hasyim, KH. Wahab dan KH. Bisri, ketiganya kelak mendirikan Jam’yyah Nahdlatul Ulama’”, papar Kang Maman.

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.