H. Kosim Fauzan: Sosok Inspiratif Pekerja Keras

Di balik keberhasilan dan perkembangan lembaga-lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Al-Mizan Langensari Jatiwangi, Majalengka, kita tidak bisa melepaskan peran H. Kosim Fauzan selaku Ketua Dewan Wakaf & Dewan Pembina Al-Mizan.

Sosok low profile yang akrab di sapa “Abah” di lingkungan Keluarga Besar Al-Mizan ini telah berperan besar dalam mendorong Al-Mizan sejak pertama kali ditintis hingga berkembang seperti sekarang ini.

Jalan Pagi Jaga Kebugaran

MESKI usianya sudah 73 tahun tapi jangan dikira H . Moch. Kosim Fauzan tidak lagi mampu berolah raga. Ya putra pasangan H. Jahari dan Hj. Mimi Ratem ini ternyata masih mampu bermain bulutangkis. Dia juga mengaku suka jalan-jalan pagi, untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Sesekali, iya juga bermain catur untuk menghilangkan kepenatan. Memang selama ini, waktu tidurnya setiap malam berkurang hanya sekitar 2-3 jam saja. “Nda tahu sekarang susah tidur,” ujarnya. Kabar dari anaknya, kalau hampir setiap malam Shalat Tahajud dan paginya Shalat Dhuha.

Untuk sekedar refresing, kakek yang memiliki 13 orang cucu dan 3 orang cicit ini mengaku sesekali mengajak jalan-jalan istri dan anak-anaknya. Selain jalan-jalan, sekadar untuk mencari makanan di luar. “Kalau makan sop dengkil sudah bosan. makanya, saya kuliner mencari makanan lain,” ujarnya.

Kadang-kadang di sela kesibukannya mengurus rumah makan, ia keliling ke cucu-cucunya .”Saya memberikan bekal pendidikan tidak hanya dengan sekolah formal tapi dengan mondok,” katanya.

Dia mengaku juga selalu dekat dengan ulama dan para kyai. Tapi dia tidak pernah meminta apapun, kecuali minta do’a. Di antara para kyai yang menjadi idolanya adalah KH Muhaemin Gunardo dari Parakan, Temanggung, Jateng, KH Ayip Muh, Cirebon dan KH Ahmad Fauzi dari Cisambeng Palasah. Saat ini sebutnya, dirinya selalu memanfaatkan fasilitas yang dimilikinya untuk ibadah. Ketika ada kegiatan para manula, lalu digiring ke pengajian untuk belajar agama. Ditanya soal kesuksesannya, kata dia, adalah kemauan yang tinggi disertai do’a dan berusaha. ”Kalau hanya do’a saja rizki itu tidak ujug-ujug turun dari langit dan harus ada syariat’nya. Dan kalau kita hanya berusaha tanpa do’a, kita seperti sombong,” petuahnya.

Berdoa dan Pantang Menyerah

KERJA keras dan tak pernah putus asa, itulah yang selama ini dilakukan H Moch Kosim Fauzan. Pemilik Rumah Makan (RM) Langensari Jatiwangi ini merupakan sosok yang tak kenal lelah untuk menggapai impiannya.

Berawal dari seorang penjual daging sapi alias jagal sapi, kini H. Kosim sapaan akrabnya sudah menjadi seorang pengusaha Rumah Makan yang sukses. Setiap harinya, Rumah Makan yang dikenal dengan sop dengkil sapinya itu, nyaris tak pernah sepi dari pengunjung. Tapi keberhasilan H Kosim tak pernah lepas perjuangan kerasnya bersama istri tercintanya Hj Umi Kulsum. Diajak menikah pada tahun 1969 lalu, pasangan suami istri ini sudah di karuniai 6 anak. Lima di antaranya wanita dan seorang laki-laki. Ada juga anaknya yang sudah meninggal dunia. Keenam anaknya itu adalah pertama, Hj Iin Inayah yang sudah menikah dengan H. Agus Indra. Putri kedua Hj. Dede Masitoh, S.Ag yang menikah dengan KH. Mas Zaenal Muhyidin S.Ag, ketiga Hj Upik Rupikoh, S.Pd.I yang menikah dengan KH Maman Imanulhaq dan Hj. Nunung Nuryahati, A.Md. menikah dengan KH. Fuad Muslim. Putri kelima Iis Solihat menikah Razaaq Salih dan keenam H. Asep Zaenal Arifin S.Pd.I menikah dengan Dewi Puspitasari, S.S

”Kami kini ingin seperti orang lain biar hidup lebih baik, karena itu kami harus kerja keras dan tak pernah putus asa,” kata H. Kosim di kediamanya Blok Ciborelang Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka.

Diceritakannya, perjalanan hidupnya tak semulus yang di bayangkan. Banyak liku-liku dan macam-macam cobaan yang menghadang. Tapi sebut pria berpenampilan sederhana ini, dirinya terus mencoba dan terus mencoba, tak kenal lelah. Sampai akhirnya, sebut dia, ada titik terang untuk memperbaiki kehidupan rumah tangganya.

Dituturkannya, sebelum buka RM Langensari dirinya berjualan daging. Dari kecil, ia juga dagang kulit kambing dan sapi. Dia mengaku tak pernah kerja di orang lain atau menjadi buruh. Ditambahkan, mulai merintis usaha rumah makan itu sejak tahun 1973 lalu. Saat itu, kata dia, dirinya memiliki tiga putri.”Rumah makan ini dulunya hanya warung kecil saja, tapi sekarang alhamdulillah terus berkembang sehingga memiliki puluhan pegawai,” cerita H. Kosim.

Ditanya soal pendidikan, sebut H. Kosim dengan berkelakar dirinya itu lulus S-2, maksudnya lulus sampai kelas 2 Sekolah Dasar (SD). Istrinya yang asal Pondok Sapi, Sindangwangi juga hanya tamat sampai dengan kelas V SD. ”Biarpun orangtuanya tidak sekolah dan bodoh, tapi kami ingin anak-anak kami menjadi pintar dan lebih tinggi ilmunya,” tuturnya.

Dia juga mengaku bangga dan bersyukur kalau anak-anaknya walaupun lima diantaranya perempuan tapi sudah lulus sarjana semua. H. Kosim mengaku selalu memberikan semangat kepada anak-anaknya agar menuntut ilmu yang banyak. Dia juga berpesan agar jangan mudah putus asa dan secara tekun terus menerus ikhtiar.”Alhamdulillah ukuran saya mah…sekarang ini sudah lebih dari cukup.” Katanya.

Pria yang lahir di Dukuh Cangcalayang Desa Waringin (Sekarang Desa Karamat Kecamatan Palasah) ini mengungkapkan, mengawali usaha rumah makan saat masih menjadi penjual daging atau jagal. Diakuinya saat itu banyak sisa atau kelebihan daging yang tidak laku semua. Sehingga,lanjutnya, dari sisa daging yang tidak terjual itu dicoba dimasak oleh istrinya. Kebetulan rumahnya berada di pinggir jalan, lalu daging itu dibuatkan sate dan empal.

“Dulu hanya warung kecil di pinggir jalan,tapi sekarang sudah lebih baik,” katanya seraya menyebutkan pernah dikontrak perusahaan PT.Wijaya Karya (Wika) untuk cateringnya. Adalah istrinya, Hj. Umi Kulsum yang memiliki resep sop dengkil sapi yang kini laris manis. H.Kosim menggakui masih menggelola rumah makannya bersama istrinya. Dia belum sepenuhnya melepas usahanya itu kepada anak-anaknya. Pria yang pernah naik haji dua kali ini yakni pada 1992 dan 2003 ini, mengaku bersyukur apa yang di cita-citakannya memiliki pesantren dapat terkabul. ”Bapak dari sejak memiliki anak masih kecil punya keingginan untuk memiliki pesantren. Dan Alhamdulillah, walaupun anak kebanyakan perempuan akhirnya memiliki pesantren Al-Mizan dan lembaga pendidikan lainnya,”tutur istrinya, Hj.Umi Kulsum menimpali.

Dia menceritakan, sebelumnya juga pernah berjualan keliling. Seperti jualan Bakso, Gerangan, Obat pecah beling hinga madu. H. Kosim mengaku pernah merantau ke Lampung, Palembang, Jambi dan Makassar untuk berjualan dan sekedar menimba pengalaman. Lelaki yang pernah mondok di Mbah Dimyati Kadipaten ini, mengaku melakoni usahanya dengan merangkak dari bawah. Tapi sekarang, sudah berbeda. Dalam sehari 1 kwintal daging sapi plus kepala dan dengkil dihabiskanya. Bahkan, banyak tawaran untuk buka usaha di kota-kota besar seperti Bandung, Cirebon, dan Jakarta.

‘bekerja keras, pantang menyerah dan selalu berdoa menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT adalah kunci keberhasilan kita”, Pungkasnya.

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.