Santri Sigap

Humor Kyai Santri – HOKI

Suatu ketika salah seorang santri di salah satu pondok pesantren di Buntet-Cirebon disuruh membeli rokok oleh Kyainya. Bagi santri perintah Kyai tidak boleh dipantrang. Justu oleh sebagian santri, perintah dari Kyainya adalah hal yang ditunggu-tunggu. Untuk “ngalap “ (mengambil) barokah katanya.

Di kalangan santri pondok salaf berkembang keyakinan jika menyepelekan perintah Kyai, sama artinya menghilangkan barokah Kyai. Akibatnya bisa fatal. Bisa-bisa boyong (pulang kampung) dengan tangan hampa, karena ilmunya tidak bermanfaat. Karir Kyai kampung yang selama ini dimpi-impikan bisa-bisa berantakan, bahkan gara-gara tidak dapat barokah Kyai posisi imam tahlil di kampungnya bisa jadi kandas. Karena itu, menjalankan titah Kyai itu hukumnya wajib, bahkan “fardu ain”.

Pada saat menemani tamunya duduk-duduk mengobrol sambil minum kopi di teras, Kyai memanggil salah seorang santri yang kebetulan lewat di depan rumahnya. Santri itupun langsung menghampiri.

“Tolong belikan rokok marbloro… !” kata Kyai.

Tanpa banyak tanya santri bergegas lari ke warung. Namun, tidak lama berselang dia sudah kembali. “Punten Kyai, marbloro merah apa marbloro putih ?” tanyanya.

“Marbloro merah,” jawab Kyai.

Selang dua menit santri itupun datang lagi. “Punten Kyai adanya marbloro putih, gimana?” katanya dengan nafas terengah-engah karena berlari.

“Ya sudah gak apa-apa,” jawab Kyai.

Dengan sigap si santri terus ngeloyor pergi setengah berlari. Tapi lagi-lagi kurang dari dua menit dia sudah kembali.

“Mana rokoknya?” tanya Kyai.

“Maaf anu Kyai, saya lupa uangnya belum dikasih,” jawab santri yang tampak mulai terlihat lemas.

“Makanya kalau disuruh perhatikan dulu perintahnya biar tuntas dan jelas, jangan main nyelonong aja,” jawab Kyai sambil menyerahkan uang.

Dengan jalan agak sempoyongan, santri itupun pergi menuju warung, kali ini dia sudah tidak sanggup lagi berlari.

Sumber: Nu Online

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.