Ketika Al-Mizan Menjadi Takdirku

Ketika Al-Mizan Menjadi Takdirku

Oleh: Fitri Kinasih Husnul Khotimah

Ketika hidup memaksaku untuk tinggal di pesantren
Saat itulah Al-Mizan menjadi bagian takdirku

“Aira, ayo Nak siap-siap. Hari ini Mama dan Papa akan mengantarkanmu ke pondok pesantren Al-Mizan.” Mama menyuruhku untuk mempersiapkan segala kebutuhanku untuk tinggal di pesantren.

Aku sempat menolak, namun orang tuaku bersikeras untuk tetap mengirimku ke pesantren.

“Tapi, Ma … Aira gak mau tinggal di pesantren. Aku mau sekolah di sini aja, pulang pergi dari rumah. Aku gak mau jauh dari Mama. Aku gak mau hidup sendiri, Ma.” Aku merengek dan memohon pada Mama untuk membatalkan keputusan sepihaknya.

“Ini perintah Nak, Mama dan Papa gak terima penolakan. Semua demi kebaikanmu. Mama gak mau kamu terbawa pergaluan bebas kaya Thalia, kakak kelas kamu yang hamil di luar nikah. Hidup di zaman sekarang harus dilandasi ilmu agama yang kuat, Ra. Di pesantren, insya allah kamu terjaga. Kamu mau ya mondok di Al-Mizan. Di sana, kamu gak sendiri kok. Nanti kamu punya banyak teman.” Mama sibuk memasukan baju-bajuku ke dalam tas besar untuk dibawa ke pesantren. Aku tidak diberi kesempatan untuk mengelak.

“Mamamu benar, Nak. Aira harus belajar ilmu agama di pesantren untuk bekal Aira nanti. Papa yakin kamu bisa belajar hidup mandiri.” Bukannya mendukungku untuk tetap tinggal di rumah, Papa justru mendukung keputusan Mama. Ah, aku sebel.

Jujur, aku kecewa dengan keputusan sepihak kedua orang tuaku. Namun aku tak bisa berbuat banyak. Sebagai anak yang lembut dan penurut, aku hanya bisa nurut sama perintah Mama dan Papa. Tidak bisa membantah, sebab orang tuaku pun tidak menerima penolakan.

Saat orang tuaku memasukan tas besar dan koper berisi pakaian serta barang-barang kesayanganku untuk di gunakan di pesantren ke dalam mobil, aku merasa Mama dan Papa tengah mengusirku dari rumah. Terasa begitu berat untuk melangkah, keluar dari rumah. Satu hal yang terbersit di hatiku, mengapa Mama dan Papa tega mengeluarkan aku dari rumah dengan kondisi usiaku yang masih kanak-kanak?

***

Perjalanan dari rumah menuju pesantren tidak terlalu membutuhkan waktu yang lama, hanya butuh satu jam saja. Gerbang bertuliskan Pondok Pesantren Al-Mizan sudah ada di depan mata, menyambut kedatanganku yang masih enggan untuk mondok disana. Aku biarkan Mama dan Papa yang mengurus urusan administrasi, lagi-lagi aku hanya bisa nurut. Mengikuti kemauan kedua orang tuaku tanpa membantah. Sebab aku bukan tipe orang pembangkang.

Setelah administrasi selesai diurus, aku dan kedua orang tuaku di antar menuju kobong [re: asrama] oleh seorang santriwati yang terlihat seperti sudah dewasa.

Jelas berbeda denganku yang masih kekanak-kanakan. Mama mengantarku hingga ke kamar, sedangkan Papa menunggu di ruang tunggu batas lawan jenis berkunjung ke lingkungan kobong puteri. Koper, tas besar, serta beberapa barang kesayanganku aku masukan ke dalam lemari yang telah disediakan pihak pesantren. Lemari kayu berukuran 50 cm x 100 cm, yang jelas jauh lebih kecil dari ukuran lemarinya di rumah.

Mama dan Papaku pulang setelah barang-barangku tersimpan rapi di lemari. Tanpa memastikan kondisiku baik atau tidak, Mama dan Papa langsung pulang begitu saja. Ada sesak yang menyelimuti hatiku. Aku menahan tangis agar tidak keluar dari mataku. Walau bagaimana pun aku harus terlihat baik-baik saja di depan kedua orang tuaku, agar mereka tidak khawatir meninggalkanku di sini.

“Mama dan Papa pamit dulu ya sayang. Kamu baik-baik di sini. Semoga kamu betah ya.” Mama pamit, meninggalkan kecupan di keningku. Begitu pun dengan Papa.

Dengan berat hati, aku berusaha untuk merelakan kepergiannya. Walau sebenarnya, jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku ingin ikut pulang. Setelah Mama dan Papa pergi hingga punggungnya tidak terlihat lagi, aku masuk ke dalam kamar yang mulai hari ini aku tempati bersama 24 santri baru yang lain.

***

Di sini, aku belum mengenal siapa-siapa selain santriwati yang tadi mengantarku ke kamar ini. Aku melirik ke kanan dan kiri mencoba untuk mengenali teman-teman baruku di sini. Namun rupanya, mereka tengah sibuk dengan urusannya masing-masing. Beberapa di antara mereka terlihat sama sepertiku, masuk ke pesantren ini dengan rasa terpaksa dan tengah mencoba untuk berlapang dada. Setelah aku memastikan ada beberapa santri yang tengah menangis di pojokan, aku memutuskan untuk mengeluarkan tangis yang sedari tadi ku tahan untuk tidak keluar.

Di pojok ruang sederhana berdinding triplek, aku membenamkan wajahku pada lutut yang ditekuk dan dipegang dengan erat, tepat di depan lemari kecil milikku. Derai air mata yang sedari tadi ditahan, kini dibiarkan jatuh ke pipi dan perlahan air mata itu membasahi wajah. Sesekali aku memasukan kepalaku ke dalam lemari untuk menyembunyikan kesedihan yang tengah berkecamuk dalam diriku. Beberapa pertanyaan perihal keputusan orang tuaku pun berkecamuk di dalam benakku.

“Apa Mama sama Papa udah gak sayang sama Aira? Padahal kan selama ini aku gak pernah nakal. Lagi pula masa iya aku kaya Thalia? Jelas gak mungkin lah.”

“Kenapa pula Mama dan Papa tega membuangku di sini? Kenapa Papa tega menyuruhku hidup sendiri tanpa keluarga di pesantren ini? Aku salah apa? Anak keluar SD sepertiku, bisa apa di sini? Jelas aku belum mandiri, segalanya masih bergantung sama Mama. Aku tak pernah menginginkan untuk hidup di lingkungan ini, aku masih betah di rumah.”

Saat aku tengah berkecamuk dengan segala pertanyaan di dalam benakku, tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang datang menghampiriku dan menyentuh pundakku dengan lembut. Lantas aku mengusap air mata yang jatuh di pipi dan menengok ke belakang untuk melihat siapa yang menyentuh pundakku.

“Kamu kenapa?”

“Eh, gapapa. Aku cuma sedih, Mama dan Papaku tega meninggalkan aku di sini.”

“Kamu jangan sedih, mungkin tinggal di sini memang yang terbaik untukmu. Lagi pula, di sini kan banyak teman. Kalau boleh tahu, siapa nama kamu?”

“Namaku, Aira Althafunnisa. Panggil saja Aira. Kalo kamu?”

“Aku, Salsa. Salam kenal ya Aira. Btw kamu kelas 1 SMA?” Tanya Salsa karena melihat tubuh Aira hampir sama dengan tubuhnya.

“Bukan, Teh. Aku baru mau masuk kelas 1 SMP. Badan aku aja yang bongsor. Teteh masuk kelas 1 SMA?” Aku paham, mengapa Teh Salsa mengira aku anak kelas 1 SMA. Sebab ini bukan kali pertamanya orang-orang mengira aku anak SMA.

Teh Salsa mengangguk, mengiyakan. “Teh, aku boleh nanya sama Teteh?” “Jelas boleh dong, mau tanya apa Ra?”

“Teteh kenapa mau tinggal di pesantren? Aira lihat, kayanya teteh senang-senang aja tinggal di sini. Gak kaya Aira yang nangis terus.”

“Jawabannya sederhana, Ra. Karena teteh mau jadi anak salihah yang bisa mengantarkan kedua orang tua teteh menuju Surga-Nya. Sebab salah satu dari tiga amalan yang tidak pernah putus pahalanya adalah doa anak salih yang mendoakan kedua orangtuanya. Teteh gak mau bikin Abah dan Umi kecewa karena Teteh gak nurutin kemauan mereka. Padahal Teteh tahu kalau keputusan Abah dan Umi menyuruh tinggal di pesantren adalah yang terbaik buat Teteh dan masa depan Teteh, sebab ilmu agama menjadi dasar atau pondasi di dalam menjalankan kehidupan.

Lagi pula, ini bukan kali pertamanya Teteh mondok. Jadi Teteh sedikit banyak sudah terbiasa dengan kondisi di pesantren.”

“Memang sebelumnya teteh mondok di mana? Lalu, kenapa Teteh mau mondok di sini?”

“Sebelumnya, aku pernah mondok di Kuningan dan tsanawiah di sana. Alasan mengapa mondok di sini, karena pondok inilah yang aku cari. Aku mencari pondok yang letaknya tidak jauh dari sekolah negeri dan mengizinkan santrinya untuk sekolah di luar yayasan. Kalo kamu, kenapa kamu ada di sini Ra?”

“Aku di sini karena perintah orang tua, dan orang tuaku tidak menerima penolakan. Jadi, aku hanya bisa nurut mengikuti kemauan mereka. Mamaku takut aku terjerumus ke dalam pergaulan bebas jika aku tidak didasari ilmu agama.”

“Alasan Mamamu baik, Ra. Terkadang, kehidupan yang keras memang memaksa kita untuk belajar ilmu agama di pesantren. Sekalipun pada awalnya setiap anak mengelak untuk mondok dengan banyak alasan. Begitu pun ketika dulu aku berada di posisimu tiga tahun lalu, persis kondisinya sama seperti kamu yang baru lulus SD, Ra. Semoga kamu segera menerima takdir ini ya. Percayalah, Allah telah menggariskan takdir kita di pesantren Al-Mizan ini jauh sebelum kita bertemu hari ini.”

“Hehe, iya Teh. Aku percaya kalau mulai hari ini, Al- Mizan memang ditakdirkan untuk menjadi bagian dari takdirku. Termasuk bertemu Teteh. Teteh mau kan bantu aku untuk menerima takdir ini dengan lapang dada?”

Teh Salsa mengangguk, tanda mengiyakan.

Penulis

Fitri Kinasih Husnul Khotimah

Fitri Kinasih Husnul Khotimah

Alumni Pesantren Al-Mizan Angkatan 2010

"Menulis adalah bagian dari proses mengabadikan kenangan, mengabadikan buah pikiran, dan mengabadikan kehidupan."

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.