KH. Mas Zaenal Muhyidin: Berdayakan Ekonomi Pesantren

KH. Mas Zaenal Muhyidin:
Berdayakan Ekonomi Pesantren

Sebetulnya pesantren menyimpan potensi besar. Selain berperan pada wilayah sosial-kemasyarakatan, ia bisa diberdayakan sebagai basis bagi pengembangan ekonomi kerakyatan.

Ungkapan itu terlontar dari KH. Mas Zaenal Muhyiddin, ketika dimintai tanggapannya soal peran-peran sosial pondok pesantren dewasa ini. Lebih jauh, dia menyebutkan pondok harus didorong agar mengambil peran-peran lain, seperti pemberdayaan ekonomi. Walau peran utama pesantren tetap dijalankan pada wilayah layanan sosial, agama dan pendidikan.

KH. Mas Zaenal Muhyiddin adalah Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi. Akrab disapa Kang Zaenal, sosoknya tidak asing lagi di lingkungan yayasan Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka. Tahun 2002, Ia dipercaya sebagai ketua Yayasan Al-Mizan. Di bawah kepemimpinannya, lembaga-lembaga pendidikan, sosial, budaya, dan ekonomi yayasan Al-Mizan terus berkembang dan menata diri. Tidak sia-sia, kerja kerasnya membuahkan hasil. Pada bulan Agustus 2008, Al-Mizan berhasil memperoleh penghargaan sebagai organisasi sosial teladan kedua se-Jawa Barat.

Aktif Berorganisasi

Sosok, dedikasi, dan kepribadian KH. Mas Zaenal Muhyiddin tidak terbentuk dengan sendirinya. Pendidikan, pengalaman, dan aktivitas beorganisasi telah memperluas wawasan dan relasi pergaulannya dengan berbagai kalangan.

Pendidikan SD dan SLTP Kang Zaenal ditempuh di tempat kelahirannya, Subang, Jawa Barat. Lulus dari SMU Islam Cipasung tahun 1992, kemudian ia melanjutkan studi di Institute Agama Islam Cipasung (IAIC) Tasikmalaya lulus tahun 1997. Ia pun pernah nyantri di beberapa pesantren, antara lain Pondok Pesantren Al Istiqomah Subang, PP. Cipasung Tasikmalaya, dan pesantren Al Ikhsan Purwokerto.

Selama beraktivitas di kampus, Kang Zaenal terlibat aktif dalam berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan. Ia aktif di Senat Mahasiswa IAIC sebagai sekretaris umum periode 1995-1997. Di organisasi ekstra, Ia adalah aktivis PC PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Tasikmalaya. dan PKC PMII Jawa Barat. Sekarang, ia aktif mendampingi dan membina PC PMII Kab. Majalengka sebagai MABINCAB PMII Kab Majalengka.

Selain aktif di PMII, Kang Zaenal aktif pula di Nadhdlatul Ulama. Sekarang dipercaya sebagai Ketua Lazisnu Kabupaten Majalengka. Ia juga tercatat pernah menduduki posisi sebagai Wakil Ketua Penguruh Wilayah (PW) LTN NU Jawa Barat.

Disamping aktif beroganisasi, Kang Zaenal pernah aktif sebagai jurnalis. Ia pernah menjadi Pemred Majalah Mahasiswa IAIC “Taqaddum” tahun 1995 dan majalah PWNU Jawa Barat “Tradisi” tahun 2000.

Memberdayakan Ekonomi Kerakyatan Pesantren

Pengalaman dan idealisme organisasi secara tidak langsung mendorong KH. Mas Zaenal Muhyiddin tergerak untuk aktif melakukan advokasi dan pemberdayaan, khususnya pengembangan ekonomi kerakyatan. Ia kemudian bergabung dengan Yayasan Bina Ummah (YBU) Cisalak mulai tahun 1995 hingga 1998. YBU adalah LSM non profit dengan visi meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi. Melalui YUB, dia pernah aktif mendampingi kelompok-kelompok masyarakat yang bergerak disektor informal, seperti : pengrajin gula “semut”, gula aren, pertukangan, pedagang asongan, PKL, dan petani ikan air deras.
Persinggungan dengan berbagai kelompok pelaku sektor usaha informal tersebut, turut menginspirasi dan memotivasinya untuk mengembangkan dan memberdayakan ekonomi pondok pesantren Al Mizan.

“secara sosial, hingga kini pondok memiliki posisi tawar kuat, tapi dari sisi peran ia mulai tereduksi” katanya.

Jika dulu, dengan otoritas dan kharismatik Kyainya, boleh jadi Pondok merupakan sentral bagi masyarakat ketika menyikapi berbagai masalah kehidupan mulai pendidikan, sosial, budaya, hingga ekonomi. Kini tidak lagi. Umumnya kini pondok terbatas bergerak di bidang sosial, agama dan pendidikan.

Karena itu, menurut Kang Zaenal, peran pondok pesantren ke luar harus dikembangkan, misalnya ia harus didorong agar berdaya dari sisi ekonomi.

“Saat ini masih banyak orang mau peduli menyumbang ke pondok, namun tidak boleh diandalkan selamanya” katanya.

Menurut dia agar survive Pondok harus diupayakan agar memiliki sumber-sumber keuangan mandiri melalui pemberdayaan ekonomi pondok berbasis kerakyatan. Arahnya, tidak hanya bagi kepentingan internal pondok, melainkan harus diorientasikan pula bagi masyarakat sekitar pondok.

Berbagai upaya penguatan dan pemberdayaan ekonomi di pondok Al-Mizan sendiri telah dilakukan. Walaupun, harus diakui hasilnya belum maksimal. Salah satunya adalah pendirian Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) “Umi Kultsum”. Saat ini, salah satu usaha koperasi ini adalah pengguliran dana simpan-pinjam bagi masyarakat kecil.

“kedepan, koperasi ini diharapkan bisa merambah usaha-usaha produkif lain, misalnya waralaba” tuturnya.

Selain memberdayakan Koppontren, upaya lain yang dilakukan adalah dengan menginisiasi usaha-usaha agro bisnis dan usaha pesantren lain, seperti Mizan Mart yang saat tengah dikembangkan di pesantren Al-Mizan .

Di tengah-tengah kesibukannya sebagai Pimpinan PP. Al-Mizan dan berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan lain, suami dari Hj, Dedeh Masitoh dan ayah dari Mar’i Muhammad Hadzik, Gina Zakiyah Nafsiah, dan Annisa Raihana Syafiyya, kini menjabat Kepala Sekolah SMAI Al-Mizan di samping sebagai Dewan Pembina Yayasan Al-Mizan.

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.