Memilihmu

Oleh : Robiatul Adawiyah

Sejak pertama mencari, aku memilihmu Dan kini aku menjadi bagianmu

Al-Mizan, terima kasih telah menerimaku

 

Sepulang dari mencari pesantren yang sesuai dengan harapan, akhirnya aku memilih Al-Mizan. Orang tuaku langsung saja setuju, aku tak terlalu mengerti bagaimana cara kerjanya, yang jelas aku bersyukur.

Hari-hari setelah itu, aku terutama kakakku disibukan sekali dengan segala hal yang berkaitan dengan daftar   di SMA Negeri 1 Jatiwangi. Aku baru tahu jika ketika kita melanjutkan sekolah di kabupaten yang berbeda, kita harus mendapat surat rekomendasi dari dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten sekolah sebelumnya. Aku belum banyak bisa membantu, urusan daftar benar-benar aku merepotkan sekali kakakku.

Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama aku menunggu pengumuman hasil penerimaan siswa  baru di SMA Negeri 1 Jatiwangi, sebab ternyata aku daftar di tanggal-tanggal pendaftaran akan segera ditutup. Aku sudah memasrahkan semua hasilnya, sedikit berharap banyak pasrahnya. Aku berharap Allah menunjukkan suatu Kuasa- Nya mengalahkan kesombongan temen SD ku itu, namun aku pasrah jika ternyata aku tidak diterima, sesuai apa yang dikatakan temen SD ku kala itu. Dan sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, aku diterima di SMA Negeri 1 Jatiwangi.

Selang beberapa harisetelah pengumuman penerimaan siswa baru, calon siswa baru harus daftar ulang langsung ke sekolah. Kali ini aku berangkat diantar orang tuaku, kakakku tidak ikut sebab ada urusan yang harus dia selesaikan. Aku bersama kedua orang tuaku berangkat cukup pagi, namun tetap saja sampai di depan ruang yang menjadi tempat daftar ulang sudah banyak sekali yang mengantri. Aku tebak kemungkinan besar di antara mereka asli atau berdomisili di Jatiwangi. Aku hampir menyerah, lelah menunggu antrian yang entah kapan selesainya, namun kedua orang tuaku mengingatkan untuk sedikit saja bersabar, aku menurut. Hingga jam menunjukkkan pukul 12.00 WIB. Saat azan zuhur berkumandang, ketika waktu istirahat tiba, aku baru selesai daftar ulang.

Aku dan kedua orang tuaku menyempatkan diri salat di masjid sekolah, setelahnya kami kembali pulang.

Saat daftar ulang, aku mendapat informasi siswa baru wajib berkumpul Jumat sebelum hari Senin besoknya mulai masuk, itu artinya aku harus segera beres-beres dan pergi menjadi santri lagi. Ah, cepat sekali rasanya. Aku mengeluh.

Aku dan keluargaku tak peduli jika nanti di pesantren belum banyak santri baru yang belum datang. Sebab sudah menjadi kebiasaan santri baru akan datang mepet sekali di hari Minggu tepat Seninnya akan dimulai masuk sekolah. Siang menjelang sore, kurang lebih jika melihat jam akan menunjukkan pukul 14.00 WIB. aku diantar keluargaku berangkat ke Al-Mizan. Dan dugaanku benar, belum banyak santri yang datang. Bahkan mungkin aku terlalu PeDe, langsung saja datang tanpa mendaftar sebelumnya apalagi dites masuk. Bagaimana jika nanti aku ternyata tidak lulus tes ujiannya? Lagi-lagi aku harus berpasrah. Dan lagi- lagi juga Allah tunjukkan Kuasa-Nya, aku lulus tes masuk pondok pesantren Al-Mizan. Aku tak bisa membayangkan, jika seandainya takdir berkata lain, masa iya aku pulang lagi, kembali aku bersyukur.

Pesantren masih sepi, sekalipun informasi dari pengurus sudah banyak yang daftar dan mereka lulus tes ujian masuk Pondok Pesantren Al-Mizan. Di asrama, atau kalangan santri lebih akrab menyebutnya kobong baru ada satu pengurus yang jaga piket.

“Namanya siapa?” tanya seorang perempuan yang sejak tadi terlihat sibuk sekali membantu aku masuk kamar.

“Salsabila Nadhifah.” Jawabku singkat dengan sedikit tersenyum.

“Nama yang indah. Aku Rania Maulida, kamu bisa panggil aku Rania. Kalo ada yang perlu dibantu, bilang aja ya.” Puji perempuan itu sembari memperkenalkan diri lebih dulu sebab aku lupa menanyakan balik namanya.

“Oh iya Teh, maaf lupa balik tanya nama. Hehe.” Aku kikuk merasa bersalah.

Selang beberapa hari, Al-Mizan sedikit demi sedikit tampak mulai ramai. Santri-santri lama dan baru mulai berdatangan. Aku yang memang kebetulan datang lebih awal diminta membantu menjemput dan mengantarka santri-santri baru yang baru datang oleh Teh Rania. Teh Rania yang aku tahu dari ceritanya saat pertemuan pertama ternyata ketua pengurus asrama santri putri.

 

Hari-hari di Al-Mizan mulai ramai, adegan haru bahkan tangis santri baru saat hendak ditinggalkan kedua orang tuanya menjadi lebih sering tertangkap mata penglihatanku. Aku sesekali tersenyum, teringat mungkin begitu aku saat dulu pertama kali masuk pesantren.

Tentang Penulis

Robiatul Adawiyah, perempuan kelahiran Cirebon pada tanggal 19 April 1995. Selepas lulus SD ia hijrah ke Kuningan untuk melanjutkan sekolah dan pesantren di pondok pesantren Miftahuttholibin Timbang-Cigandamekar-Kuni- ngan. Begitupun saat lulus MTs, ia hijrah lagi ke Majalengka untuk melanjutkan SMA dan pesantren di pondok pesantren Al-Mizan Jatiwangi-Majalengaka. Saat kuliah, ia memilih jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan di Politeknik Kesehatan Kemenkes Tasikmalaya kampus Cirebon dan lulus tahun 2016. Sejak lulus, ia diterima kerja di salah satu rumah sakit kepemilikan swasta di Cirebon hingga sekarang.

Beberapa tulisan yang dimuat dalam ‘project kalami menulis’ adalah beberapa tulisan yang ia tulis setelah sebelumnya cerpen dengan judul “Ketika Aku Temukan Cahaya Itu” dimuat dalam kumpulan cerpen terbaik  saat lomba cipta puisi dan mengarang cerpen yang diselenggarakan pimpinan pusat IPPNU (2012) dan tulisan dengan judul “Dimensi Syukur” dimuat dalam buku Universitas Kehidupan (2018).

Menulis bagi dirinya adalah salah satu cara terapi hati. Sebab dengan menulis ia merasa dilatih mengendalikan emosi.

Untuk mengenal Robiatul Adawiyah secara personal, bisa menghubungi :

Email  :           al.adawiyah1995@gmail.com

Instagram         :           @robiatul.adawiyahh

Facebook       :            Robiatul Adawiyah

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.