Mencari Mbah Moen Di Sini

Apa yang akan kau ceritakan
bila sahabatmu berpulang?
Apakah kau akan bercerita tentangmu?

Apa yang akan engkau kisahkan
ketika kekasihmu berpulang?
Apakah semua kisah adalah tentangmu?

Apa yang akan dirimu sampaikan
ketika ibumu, ayahmu atau saudaramu berpulang? Apakah selalu tentangmu?

Kini, apa yang hendak dirimu kabarkan,
ketika gurumu, penuntunmu, kyaimu berpulang? Apakah lagi-lagi semuanya tentangmu? Tentang dirimu sendiri?

SAMPAI kapan dirimu selesai dengan dirimu sendiri?

Kita menangis bukan semata karena kita kembali kehilangan sosok penyejuk di antara kita, sementara kita kian kemari kian retak.

Kita menangis lantaran kita makin gagap menjejak, menapaki jejak-jejak mereka yang sejuk, menentramkan, mendamaikan. Mereka, sosok teladan itu, satu per satu telah berpulang.

Bagaimana kita akan bersedih jika, sebenarnya guru kita hanya pulang untuk menemui Kekasih yang selama ini ia rindukan. Sesungguhnya kita semua bersedih karena kita kembali kehilangan uswah, kehilangan teladan yang menuntun dan menerangi langkah-langkah kita saat ini dalam membangun negeri, bangsa dan peradaban.

Kita, kehilangan sosok lembut bersajaha, yang bersedia berdiri demi Lagu Indonesia Raya, meski untuk duduk saja, ia begitu berat dan payah.

Mbah Moen,
Menatap dan menyimak senyum wajahmu, kami teringat Mbah Hasyim. Kami teringat Mbah Dahlan. Kami teringat Mbah Wahab. Kami terbayang Mbah Bisri. Kami teringat Mbah Abbas, Mbah Dalhar, Mbah Ma’sum, Mbah Idris, Mbah Hamid. Mbah Ahmad Shiddiq, Mbah Lim, Mbah Dullah Salam, Mbah Ruchiyat, Mbah Sahal. Kami, terkenang Gus Dur. Kami terkenang… wajah-wajah lembut yang mencintai negeri ini. Wajah-wajah yang mendamba persatuan, perdamaian, kesetaraan, keadilan, kemakmuran dan kemuliaan negeri ini.

Mbah Moen,
Sebenarnya kami malu. Kami malu mengaku-ngaku memiliki dirimu dengan segala tentangmu. Karena engkau selalu berpesan, bahwa segalanya Milik Allah. Seluruhnya Milik Allah. Negeri ini adalah Milik Allah. Kekuasaan juga Milik Allah. Kemerdekaan juga Milik Allah. SegalaNya Milik Allah.

Maka siapa tak punya hak untuk merebut, mengakui, apalagi merusak dan menodai negeri yang kita cintai.

BAGAIMANA…KITA MERASA KEHILANGAN UNTUK SEGALA APA YANG TAK PERNAH KITA MILIKI?

Segalanya MilikNya, Segalanya untukNya.
Dan Segalanya kembali kepadaNya.
Inna Lillahi wa inna ilaihi rajiun…

Jakarta, 8 – 8 – 2019
Abdullah Wong
Sekjen Lesbumi NU

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.