Menuju “Makan Sejati”

Menuju "Makan Sejati"

ade duryawan
Ade Duryawan
Sekretaris Yayasan Al-Mizan, Bendahara GP Ansor Majalengka

Ramadhan kembali hadir di tengah-tengah kita. Puasa sesungguhnya mengandung energi perubahan sosial. Puasa memiliki dimensi yang luas, bukanlah ibadah yang sifatnya transedental belaka, melainkan terpaut erat dengan relasi sosial-kemanusiaan.

Puasa adalah “kawah Candradimuka” untuk penyucian diri. Melalui puasa, sesungguhnya kita ditempa menuju “manusia sejati”, yakni manusia yang jiwa dan ruhaninya kuasa menaklukkan hawa nafsu, sedangkan sisi-sisi kemanusiannya tergelitik dan tergerak manakala orang-orang di sekitarnya berkubang dalam kemiskinan, bergumul dalam kebodohan, teraniaya dalam kezaliman, dan mengalami penderitaan-penderitaan lain.

Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, mengurai tingkatan puasa diklasifikasi menjadi tiga, yaitu puasa umum, puasa khusus, dan puasa khusus yang lebih khusus lagi.

Puasa umum adalah tingkatan yang paling rendah yaitu menahan dari makan, minum dan jima’. Puasa khusus, di samping menahan yang tiga hal tadi juga memelihara seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat atau tercela. Sedangkan puasa khusus yang lebih khusus adalah puasa hati dari segala kehendak hina dan segala pikiran duniawi serta mencegahnya memikirkan apa-apa yang selain Allah.

Puasa level ketiga tadi adalah puasanya para nabi-nabi, shiddiqin, dan muqarrabin. Sedangkan puasa level kedua adalah puasanya orang-orang salih – puasa tingkat ini yang seharusnya kita tuju untuk mencapainya.

Bagi mereka yang sungguh-sungguh memaknai hakikat puasa, maka puasa adalah jalan untuk menemukan “kesejatian hidup”. Puasa adalah peperangan besar melawan hawa nafsu. Puasa, sebagaimana Emha Ainun Najib menyebutnya, sesungguhnya adalah “menuju makan sejati”. Kegiatan puasa, bukanlah pertempuran melawan “tidak boleh makan” atau “tidak adanya makanan”, melainkan lebih dari itu, kata Emha untuk melawan nafsu itu sendiri yang menuntut pengadaan lebih dari sekadar makanan.

Puasa adalah penguraian “nafsu” dari “makan”. Untuk “tidak makan” jauh lebih gampang dan ringan dibanding untuk “tidak bernafsu makan”, terutama bagi para penghayat “makan yang sejati”.

Seorang Sufi yang taraf pergaulannya dengan makan tinggal hanya berkonteks kesehatan tubuh, dalam hidupnya ia tak pernah lagi ingat makan, kecuali ketika perutnya lapar. Ia bukan merekayasa untuk hanya makan ketika lapar, tapi memang betul-betul sudah tak ingat makan sampai perutnya mengingatkan, bahwa ia lapar.

Untuk ingat lapar, cukup perut yang melakukannya. Tapi untuk berhenti makan sebelum kenyang, manusia memerlukan dimensi-dimensi rohani tinggi kemanusiaannya untuk mengingatnya. Ia memerlukan nalar ilmu kesehatan tentang makan yang sehat, yakni tentang kurang dan tak lebih. Ia juga memerlukan ilmu dan kearifan yang lebih tinggi untuk melatih ketepatan kapasitas makan, agar ia memperoleh ketepatan pula dalam aktivitas “makan” yang lain di bidang-bidang kehidupan yang lebih luas.

Nah, puasa, mengajarkan dan melatih pelaku-pelakunya untuk makan, untuk memiliki sejumlah uang dan kekayaan, untuk bersedia menggenggam kekuasaan, untuk menjadi ini-itu atau melakukan apa pun saja, hanya ketika benar-benar dalam keadaan “lapar sejati”, bukan dalam keadaan “merasa lapar karena nafsu”.

Jika orang menjalankan puasa dengan pengetahuan, ilmu, cinta, dan ketaqwaan, ia akan terlatih untuk bertahan pada “makan yang sejati”.Yakni, terlatih untuk mengambil jarak dari nafsu. Terlatih untuk tidak melakukan penumpukan kuasa dan milik, tidak melakukan monopoli, ketidakadilan, serta penindasan, karena telah diketahui dan dialaminya, bahwa itu semua adalah “makanan palsu”.

Demikian, Sungguh merupakan sebuah kritik terhadap perilaku kita, yang justru yang tak henti-hentinya makan, padahal tak lapar, yang tak habis-habisnya makan, padahal sudah amat kekenyangan!

Semoga puasa kali ini membawa kita menuju “makan sejati” sebagaimana yang dimaksudkan di atas, sehingga kita menjadi jiwa-jiwa yang kembali suci (fitroh) yang mampu meraih “kemenangan” terbebaskan dari “budak hawa nafsu”.

[Disarikan dari berbagai sumber]

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.