Paradoks Pendidikan & Religiusitas Kita

Paradoks Pendidikan & Religiusitas Kita

ade duryawan
Ade Duryawan
Penggiat Pendidikan, Bendahara PC. GP Ansor Majalengka

TERUNGKAPNYA Operasi Tangkap Tangan (OTT) dan kasus-kasus dugaan korupsi yang masif menjerat para pejabat, birokrat, Kepala Daerah, dan politisi kita oleh KPK belakangan ini sungguh membuat kita miris dan prihatin. Realitasnya, betapa bangsa ini penuh sesak dengan orang-orang yang culas, orang-orang yang munafik, orang-orang yang tidak jujur, orang-orang yang tidak memegang amanah, dan orang-orang yang tidak punya hati nurani.

Kita tidak habis pikir sebab para koruptor itu bukanlah orang yang tidak berpendidikan. Setidaknya, mereka pernah mengenyam bangku sekolah. Karena itu, pasti mereka sadari betul jika perbuatannya itu tidak bisa dibenarkan dari sisi manapun, baik hukum maupun etika. Selain berpendidikan, pelaku korupsi adalah orang yang beragama. Ia tahu persis jika mengambil hak orang lain itu termasuk melanggar ajaran Tuhan, karena berarti hal itu merupakan bentuk kezaliman.

Sungguh ironis, kini kita tengah dihadapkan pada sebuah paradoks pendidikan dan laku religiusitas yang memprihatinkan.

Melihat paradoks di atas, setidaknya ada dua pertanyaan yang layak diajukan. Pertama, adakah yang keliru dengan pendidikan kita ?. Kenapa melahirkan orang-orang yang pinter namun keblinger ?. Pinter tapi tidak memiliki rasa kemanusiaan; cerdas tapi tak memiliki rasa malu !. Sekolah dan Perguruan Tinggi kita memang telah berhasil mencetak intelektual, ekonom, politisi, jaksa, hakim, pejabat, dan sebagainya yang tidak terhitung jumlahnya, namun sayang mereka tidak seluruhnya bernurani !.

Pertanyaan yang kedua adalah terkait dengan laku keberagamaan kita. Bukankah surau dan mesjid selalu penuh sesak ?. Ritual-ritual keagamaan pun rutin dijalankan. Pengajian-pengajian tidak pernah sepi. Sementara itu di antara kita tidak sedikit pula yang bergelar haji. Bahkan mereka berangkat berkali-kali. Namun sayangnya kenapa religiusitas kita tidak berbanding lurus dengan moralitas kita ?. Aneh memang, di negeri kaum beragama ini justru tingkat korupsinya begitu tinggi. Praktek jual-beli hukum kian menjadi-jadi. Belum lagi dengan maraknya berbagai praktik tidak terpuji lainnya yang mengedepankan kekerasan, menggadaikan kejujuran dan mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan. Disadari atau tidak, moralitas bangsa ini benar-benar tengah berada dalam suatu kondisi yang memprihatinkan.

Berangkat dari paradoks di atas, kita punya PR besar untuk mengembalikan pendidikan kita pada hakekat yang sebenarnya. Bagi Paulo Freire, ahli pendidikan dari Amerika Latin, pendidikan tidak lain adalah ikhtiar humanisasi, yakni : memanusiakan kembali manusia. Ketika orientasinya bukan untuk itu, maka hakekatnya menurut Freire telah terjadi proses penafikan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan (Dehumanisasi). Karena itu, misi pendidikan bukan saja mengembangkan aspek intelektual semata, karena kita tidak ingin mencetak generasi pintar tapi tidak punya perasaan. Yang harus kita kembangkan adalah bagaimana pendidikan itu juga mampu mengembangkan aspek emosional dan spiritual. Pendidikan tak hanya mengasah otak, tapi bagaimana mengolah rasa dan hati. Anak-anak kita harus diajarkan bagaimana belajar menyayangi diri sendiri serta orang-orang sekitarnya. Mereka juga harus belajar mau berbagi dan peduli pada orang lain. Sedangkan dalam menyikapi setiap masalah, mereka atasi dengan kelembutan hati bukan dengan kekerasan-anarkhisme yang membabi buta. Anak-anak kita harus diajarkan pula bagaimana mereka belajar bertanggungjawab, memegang teguh amanah yang diberikan kepadanya, berlaku jujur serta tidak merampas hak-hak orang lain yang bukan miliknya. Melalui pendidikan, anak-anak semestinya digembleng agar menjadi “manusia seutuhnya”, yakni manusia yang berhati nurani dan berbudi pekerti luhur. Manusia yang memiliki “rasa malu”.

Terkait bencana dekadensi moral yang melanda bangsa ini, religiusitas kita pun sepertinya patut kita refleksikan kembali. Apalah artinya beragama, bila perilaku kita menyimpang dari semangat dan spirit ajaran agama yang suci yang selama ini kita agung-agungkan ?. Agama semestinya bukan cuma baju luar yang sifatnya formalistik belaka. Sebagai orang beragama, tidak sepatutnya kita melakukan kejahatan kemanusiaan dengan berlindung di balik ajaran suci Tuhan.

Refleksi lain dari religiusitas kita adalah soal relasi spiritual kita yang tidak cukup sebatas hubungan vertikal kita dengan Tuhan. Spiritualitas kita harus ditarik pada dimensi yang lebih luas, yakni relasi horizontal kita dengan sesama manusia (Habluminannas). Ritual-ritual keagamaan yang kita jalani, makna dan spiritnya harus dijewantahkan dalam konteks sosial. Bukankah pelajaran dari puasa sesungguhnya tidak hanya menahan lapar dan haus belaka ?. Selain mengendalikan hawa nafsu, melalui puasa kita juga diajarkan bagaimana menyelami kehidupan orang-orang susah. Begitu pula dalam ibadah haji. Ada dimensi sosial di dalamnya. Menunaikan haji berarti menanggalkan segala macam atribut, entah itu atribut fisik, atribut sosial, atau atribut-atribut lain yang melekat pada kita. Ada sebuah nilai kesetaraan yang ingin diajarkan dalam ibadah haji : bahwa di hadapan Tuhan seluruh manusia itu kedudukannya sama, tanpa kecuali, terlepas dari apapun status sosial yang disandangnya. Zakat fitrah selain membersihkan harta, juga terkandung nilai sosial di dalamnya, yakni membangun solidaritas antar sesama manusia. Begitulah, sama halnya dengan ibadah-ibadah sebagaimana disebutkan, dalam ibadah-ibadah lain pun terkandung nilai-nilai sosial.

Kini tugas berat tengah kita pikul dalam membangun dan melanjutkan peradaban bangsa ini khususnya, dan secara luas peradaban manusia pada umumnya dengan merefleksi ulang terhadap orientasi pendidikan dan religiusitas kita. Sebuah peradaban yang tentu saja fondasinya harus kita bangun berpijak pada nilai-nilai moralitas dan kemanusiaan. Untuk itu kita butuh generasi yang bukan hanya tangguh, kuat dan cerdas belaka, lebih dari itu, sebuah generasi humanis yang berhati nurani !.

Wallahu ’Alam Bissowab[ ]

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.