Pesantren Al-Mizan

Sejarah

Sekitar tahun 1995, di sekitar kediaman H. Muhammad Kosim Fauzan dirintislah Majlis Ta’lim ibu-ibu, Shalat Jumat, dan Pengajian Santri Kalong (santri tidak mukim) oleh KH. Maman Imanulhaq dan Almaghfurlah KH. Ahmad Fauzi dengan nama Ath-Thoyyibah. Empat tahun kemudian, tahun 1999, selain santri kalong, pengajian mulai diperuntukkan pula bagi santri mukim atau mondok yang berjumlah 50 anak. Dalam perjalanannya, pengajian Ath-thoyibah kemudian berubah nama menjadi Al-Mizan.

Tradisi Keilmuan

Kata “Al-Mizan”diambil dari  Al-Quran urat Ar-Rahman ayat 9 yang memiliki arti: timbangan, keadilan, atau keseimbangan. Makna ini direfleksikan sebagai ikhtiar dalam membangun tradisi keilmuan dengan meletakkan pengetahuan agama sebagai mainstream serta menyusun strategi budaya yang adiluhung. Tradisi inilah yang akan mendorong munculnya kreativitas dalam budaya dan tradisi masyarakat sehingga mampu menjadi kekuatan untuk mencerdaskan dan memberdayakan masyarakat dalam melakukan perubahan (change) yang ada dalam struktur masyarakat yang pluralisme (beragam), dengan mengusung 3 (tiga) gagasan- strategis, yaitu:

  1. Mempertemukan sejumlah pemikiran kritis yang emansipatoris dan ekplorati
  2. Merekonstruksi nilai-nilai keberagamaan dan keberimanan dalam konteks yang lebih luas dan majemuk
  3. Menjalin kerja sama yang sinergis antar komponen masyarakat dengan semangat saling mencintai, menghargai, dan menguntungkan (simbiosis mutualism).

Pesantren Al-Mizan, seperti juga pesantren salaf lainya, mempunyai tradisi (al-turâts) khas yang merupakan khazanah kejiwaan (makhzun al-nafs) yang bersifat material dan immaterial yang digali selama puluhan tahun pengabdian Al-Mizan di tengah masyarakat, sejak 1999.

Tradisi keilmuan pesantren Al-Mizan dikembangkan untuk melahirkan pribadi santri yang berkarakter kuat dan memiliki integritas serta pemikiran yang progresif-transformatif. Karakter ini akan bersifat fleksibel dan toleran, jauh dari watak radikal & ekstrem, misalnya dalam menyikapi masalah sosial, politik, maupun kebangsaan.

Dengan watak dan tradisi yang fleksibel dan toleran itulah, diharapkan santri Al-Mizan akan mampu menjembatani berbagai problem keotentikan dan kemodernan (musykilah al-ashalah wa al-hadatsah) secara harmonis di zaman kekinian yang penuh dengan tantangan.