Pesantren dan Budaya Damai

Pesantren dan Budaya Damai

H. Asep Zaenal Aripin
H. Asep Zaenal Aripin
Ketua Yayasan Al-Mizan Langensari, Pengasuh PP. Al-Mizan Jatiwangi

Kita kembali dihentakkan oleh tragedi Bom bunuh diri yang terjadi di Polrestabes Medan, Jl. HM Said, Medan, pada Rabu (13/11) lalu. Ledakan Bom tersebut menewaskan pelaku dan melukai 6 orang korban lainnya.

Atas tindakan biadab Bom bunuh diri tersebut, kita semua turut prihatin. Ini menunjukkan bahwa ancaman terorisme bisa terjadi setiap saat dan di mana saja. Kita semua harus senantiasa waspada.

Gerakan, tindakan dan aksi teror dan kekerasan tentu tidak senafas dengan prinsip dakwah ala pesantren. Secara tegas kalangan pesantren menolak segala bentuk aksi kekerasan dan terorisme atas nama agama tersebut. Berkebalikan dengan prinsip itu, pesantren justru mengajarkan nilai dan sikap toleransi, kelembutan dan kedamaian.

Sebagaimana kita ketahui, dalam konteks anti kekerasan, pesantren telah lama berperan turut serta menciptakan situasi damai di negeri ini. Sejarah telah mencatat peran signifikan itu. Sejak dulu, pesantren akrab dengan budaya damai. Tradisi-tradisi yang berkembang di pesantren adalah tradisi yang menghargai perbedaan-perbedaan dan anti kekerasan. Pesantren menjunjung tinggi sikap menghargai, tanpa mempersoalkan asal-usul agama, etnis, dan ras. Pesantren merupakan taman kedamaian dan toleransi, yang bukan hanya sekedar diajarkan dan didiskusikan, melainkan ditradisikan dalam kehidupan nyata.

Perbedaan pendapat antar para ulama yang lazim menghiasi lembar-lembar kitab kuning turut membentuk karakter santri untuk tidak memutlakkan pendapatnya sendiri. Pesantren kental dengan tradisi dialog. Berbeda pendapat maupun sikap adalah hal lumrah. di kalangan pesantren, sejak lama bahtsul masail menjadi tradisi ketika memutuskan suatu hukum atau perkara. Menariknya, dinamika perbedaan pendapat itu berjalan tanpa menyalahkan satu sama lain. Bahkan, dikenal luas sebuah kaidah fiqh, al-ijtihâd lâ yunqaddu bi al-ijtihâd, ijtihad itu tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad lain. Artinya, pendapat yang satu bukan berarti lebih benar dari yang lain karena lebih akhir ijtihadnya atau alasan lain.

Karena itu, hampir dipastikan di kalangan pesantren tidak akan muncul klaim kebenaran mutlak. Menganggap dirinya paling benar dan menghakimi pihak lain salah, sebagaimana klaim yang selama ini digaungkan oleh para teroris ketika berhadapan dengan kelompok lain yang berseberangan dengan dirinya.

Mari kita jaga anak-anak kita agar terhindar dari paham terorisme dan radikalisme. Pesantren harus menjadi benteng pertahanan dari serangan ideologi terorisme dan radikalisme. Kita jaga bangsa dan negeri ini dari kelompok-kelompok yang ingin menghancurkannya. Sejak dini, kita tanamkan kepada generasi penerus kita agar mereka mencintai tanah air, tumpah darah mereka : INDONESIA. [ ]

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.