Pesantren dan Budaya Ekonomi Masyarakat Pedesaan

Pesantren dan Budaya Ekonomi Masyarakat Pedesaan

Joharul Aripin
Joharul Aripin
Kepala Sekolah SMK Ma'arif Al-Mizan

Potret Budaya Ekonomi Pedesaan

Berbicara pesantren berarti berbicara juga masyarakat sekitar pesantren. Sebab keberadaan pesantren tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat. Salah satu indikasinya letak pesantren selalu berada di tengah-tengah suatu komunitas masyarakat.

Masyarakat sekitar pesantren pada umumnya adalah masyarakat pedesaan. Karena letak pesantren kebanyakan berada di daerah pedesaaan bahkan terkadang terletak di daerah pelosok yang sulit dicapai. Hanya sebagian kecil saja pesantren yang berada di daerah perkotaan.

Dengan letak geografis seperti itu, maka kebanyakan masyarakat sekitar pesantren adalah masyarakat agraris. Sebagian besar berprofesi sebagai petani, baik sebagai pemilik lahan maupun hanya sebagai buruh tani yang bekerja kepada petani pemilik lahan.

Selain sebagai petani, masyarakat pedesaan biasanya berprofesi sebagai pedagang aneka barang keperluan sehari-hari. Baik dilakukan dengan cara berjualan sebagai sub agen di pasar tradisional maupun sebagai pengecer dengan kios di depan rumah. Tak jarang pula dijumpai pedagang keliling yang menjajakan barang dagangannya berkeliling kampung.

Home industri adalah profesi lain yang ditekuni oleh masyarakat pedesaan, seperti menjadi produsen makanan ringan atau pun barang kerajinan dengan skala yang amat kecil dan masih menggunakan cara-cara tradisional. Sebagai contoh pengrajin kerupuk atau makanan khas daerah lainnya. Di tiga sektor itulah perekonomian pedesaaan berkutat. Meski ada juga yang bergerak selain di tiga sektor tadi, namun jumlahnya tidak begitu besar.

Kendala Yang Dihadapi Ekonomi Pedesaan

Pertumbuhan ekonomi di pedesaan tidak secepat perkotaan, karena sarana dan prasarana belum mendukung serta letak yang kurang strategis. Tak heran bila magnet ekonomi lebih banyak terdapat di perkotaan sehingga merangsang urbanisasi. Sektor ekonomi pedesaan banyak menghadapi kendala yang tak jarang menjadi faktor penghambat laju pertumbuhann ekonomi. Pertanian misalnya. Persolan yang biasa dihadapi adalah tingginya biaya produksi, harga jual hasil pertanian yang rendah, kerusakan ekosistem pertanian pedesaaan, penerapan teknologi, serta rendahnya kesejahteraan pekerja pertanian.
Tingginya biaya produksi pertanian disebabkan karena tingginya harga pupuk, bibit, maupun pengolahan tanah. Belum lagi mahalnya biaya tanam dan biaya pemeliharaan.

Harga jual hasil pertanian pun relatif murah disebabkan praktek tengkulak yang masih merajalela. Pemerintah pun ikut mengontrol harga dengan selalu menetapkan harga pokok gabah misalnya. Dengan begitu posisi tawar petani menjadi lemah.

Kerusakan ekosistem pertanian pedesaan akibat dari pemakaian bahan-bahan kimia yang terus menerus bahkan melebihi takaran ikut pula menjadi penyebab petani semakin terjepit. Pemakaian bahan-bahan kimia secara berlebihan menyebabkan kesuburan tanah berkurang hingga hasil panen pun kurang menggembirakan tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan.

Kemajuan teknologi juga bagai pisau bermata dua. Satu sisi banyak memberi kemudahan pada petani dalam pengolahan lahan, tetapi di sisi lain semakin menyingkirkan tenaga manusia. Efek dominonya adalah semakin banyak buruh tani kehilangan pekerjaan. Penggunaan traktor misalnya, telah mereduksi para pencangkul tanah.

Bidang perdagangan juga bukan tanpa kendala, keterbatasan permodalan salah satunya. Sedang untuk mengakses permodalan perbankan sedikit sulit. Ini terjadi karena usaha masyarakat desa beresiko menurut perbankan. Sebab biasanya tidak memiliki laporan keuangan secara tertulis sebagai bahan analisa kelayakan usaha untuk pencairan kredit.

Selain itu, bunga yang dipatok untuk kredit mikro pun sangat tinggi. Dalam sebuah tulisan di harian Jawapos (13/04), Sri Adiningsih Dosen FE UGM mengatakan bunga yang dipatok bank untuk kredit usaha mikro adalah sekitar 20-30%. Bahkan adapula lembaga keuangan mikro (LKM) seperti koperasi simpan pinjam yang menetapkan bunga kredit usaha mikro sebesar 40-50% bahkan lebih besar. LKM seolah telah berubah wujud menjadi ”renternir” yang memiliki legalitas. Akhirnya masyarakat pedesaan kesulitan mengembangkan usaha mereka karena terkendala terbatasnya modal. Sungguh ironis memang, para pemilik modal dengan mudahnya menginvestasikan uang di lembaga keuangan baik bank maupun LKM dan mendapat keuntungan dari bunga kredit mikro sementara para pelaku usaha mikro harus bekerja keras menembus akses modal lembaga keuangan dan membayar bunga kredit yang lumayan tinggi.

Mendorong Peran Pesantren

Lantas apa yang harus dilakukan pesantren melihat hal tersebut?

Pesantren tentu harus proaktif membantu masyarakat yang berada di sekitarnya yang nota bene adalah masyarakat pedesaan. Karena pesantren — yang pada awalnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional dimana para siswanya tinggal bersama dan belajar ilmu-ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kyai — selalu berkait kelindan dengan mereka. Tentu sudah sewajarnya pesantren turut menangani masalah ekonomi sebagai bentuk kesalehan sosial. Pesantren selain berperan pada wilayah sosial kemasyarakatan bisa juga diberdayakan sebagai basis pengembangan ekonomi kerakyatan.

Pesantren bisa mengambil langkah-langkah untuk turut berpartisipasi menangani masalah ekonomi.

Pertama, Pesantren harus merubah paradigma. Sebelum memberi pencerahan pada orang lain, pesantren terlebih dahulu harus merubah paradigma diri sendiri. Selama ini pesantren hanya fokus pada bidang pendidikan dan kerja sosial, sementara ekonomi jarang sekali tersentuh oleh pesantren. Justru pesanten dan orang-orangnya lebih cenderung terjun ke ranah politik untuk mendapat kekuasaan. Sayangnya, setelah kekuasaan didapat tidak digunakan untuk melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Padahal sangat banyak ajaran Islam yang bermuatan kepedulian terhadap orang-orang papa, yang memberi penegasan betapa pemberdayaan ekonomi merupakan areal yang mendapat perhatian serius. Nabi Muhammad pun menegaskan dalam sebuah Hadits “kadang kefaqiran membawa kekufuran”, artinya orang yang lemah secara ekonomi mudah sekali mejadi kufur. Di sini Nabi memberi gambaran bahwa orang yang lemah secara ekonomi bisa saja dia dengan mudah menukar keimanannya dengan kebutuhan materi. Hadits tersebut sangat mashur dikalangan pesantren dan sering didengung-dengungkan. Akan tetapi hanya menjadi penghias bibir saja karena tidak diikuti oleh karya nyata bagaimana menghilangkan kefaqiran itu.

Kedua, setelah punya paradigma baru, pesantren harus berani keluar dari zona nyaman yang selama ini ditempati. Bila selama ini hanya enjoy dengan dunia pendidikan, sekarang harus mau keluar untuk menjadi penghubung masyarakat dengan berbagai pihak baik dengan pemerintah maupun pihak lain untuk melakukan pemberdayaan ekonomi lewat program pemerintah maupun kemitraan dengan pengusaha.

Ketiga, pesantren melakukan pembinaan dan penguatan terhadap masyarakat. Usaha ini bisa ditempuh dengan mangadakan pelatihan keterampilan bagi masyarakt agar tidak hanya bergantung pada tiga sektor ekonomi yang selama ini digeluti. Melakukan pendampingan pada pemilik home industri yang ada disekitar pesantren dalam hal manajemen maupun pemasaran produk. Untuk bidang pertanian, pesantren bisa menggandeng ahli pertanian untuk memberi penyuluhan pengolahan lahan maupun pemasaran produk pertanian.

Keempat, mencoba merubah budaya masyarakat desa menjadi produsen tidak hanya sebagai konsumen, dengan menggali potensi-potensi yang dimiliki oleh masyarakt sekitarnya untuk kemudian ditawarkan kekhalayak. Kalau diamati dengan jeli, banyak potensi yang dimiliki masyarakt pedesaaan yang layak untuk dilempar ke pasaran baik berupa kerajinan, maupun kretifitas lain. Usaha ini dilakukan untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan masyarakat desa. Pesantren juga bisa menjadi magnet ekonomi pedesaan dengan mendirikan industri terpadu. Industri terpadu adalah industri yang didirikan dengan menyesuaikan dengan kondisi sekitar. Sebagai contoh, bila di sekitar pesantren banyak terdapat petani kedelai, pesantren bisa mendirikan usaha pembuatan tempe. Dengan begitu petani tidak kebingungan menjual kedelainya, sementara yang biasa berjualan bisa menjadi penjual tempe produksi pesantren. Dengan cara sederhana ini pesantren bisa mencipatakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

Kelima, usaha ini bisa di bilang usaha yang idealis, namun tidak ada salahnya pesantren berusaha untuk melakukan pemberdayaan masyarakat pedesaan. Kesuksesan usaha itu setidaknya bisa menekan angka urbanisasi, serta mencoba menjadikan desa sebagai magnet ekonomi baru. [ ]

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.