The Five Spirit of Al-Mizan

The Five Spirit of Al-Mizan

Ada lima nilai, Five Spirit, yang digali, dikembangkan dan ditanamkan Al-Mizan untuk melahirkan pribadi ungul dengan karakter, integritas dan pemikiran yang cemerlang. Yaitu:

1. KEILMUAN
Dalam surat At-taubah(9) ayat 122, Alah berfirman, “ Tidak sepatutnya bagi orang-oarang mukmin untuk berangkat semua ke medan perang. Mengapa tidak ada orang yang pergi dari tiap-tiap golongan untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama. Dan kemudian memberi peringatan pada kaumnya saat kembali, agar mereka dapat menjaga diri”.

Rasulullah bersabda, “ Barang siapa yang ingin akhirat maka wajib baginya mencari ilmu. Barang siapa yang ingin dunia maka wajib baginya mencari ilmu. Barang siapa yang ingin akhirat dan akhirat maka wajib baginya mencari ilmu”.

Syeikh Abu Ali Ats-Tsaqofi (Wafat 328 H) mengatakan, “ al-ilmu hayat al-qolbi main al-jahli wa nur al-‘ayni min adz-dzulumat, ilmu itu hidupnya hati dari kebodohan dan cahaya iman yang melindungi dari kedzaliman”.

2. KEIKHLASAN
Dalam surat Al-Bayyinah (98) ayat 5, Alah berfirman, “ Dan tidaklah mereka disuruh kecuali untuk beribadah penuh keikhlasan…”.

Rasulullah bersabda,” Setiap manusia akan hancur kecuali yang berilmu. Setiap yang berilmu akan rugi kecuali yang beramal. Setiap yang beramal sia-sia kecuali yang ikhlas”.

Keikhlasan hati dan ketulusan jiwa akan membuat kita tegar meskipun kita diasingkan oleh masyarakat yang terpedaya hawa nafsu. Lebih dari itu, rasa ikhlas yang sejati akan membuat kita menang dalam kekalahan, kenyang dalam kelaparan, aman dalam ketakutan serta selalu gembira meskipun derita datang mendera. Keikhlasan mampu mengubah tujuan perjuangan seseorang yang semula untuk diri sendiri menjadi berguna bagi sebanyak mungkin umat manusia yang membutuhkan. Sosok yang berjiwa ikhlas itu ibarat lilin yang membiarkan dirinya terbakar demi menerangi saudara, tetangga, masyarakat, dan generasi yang akan datang.

3. KEMANDIRIAN
Sebuah penelitian terhadap beberapa pemimpin oleh Manfred Kets de Vries disimpulkan bahwa kedisiplinan yang tertanam sejak kecil, termasuk kerasnya pengalaman hidup, akan mendorong seseorang menjadi pemimpin. Maka pesantren yang disebut oleh KH Abdurrahman Wahid sebagai,” …mirip dengan akademi militer atau biara (monestory, convent) dalam arti bahwa mereka yang berada di sana mengalami suatu kondisi totalitas”, selalu menekankan nilai kemandirian. Kemandirian tersebut kelak diperlukan sebagai sebuah kemampuan untuk mengembangkan pertanggungjawaban diri secara jujur, memaksimalkan potensi diri, dan mengembangkan kreatifitas untuk memutus ketergantungan terhadap kekuatan lain.

Seorang yang mandiri akan mempunyai karakter kepemimpinan yang kuat, yaitu: berpandangan jauh ke depan (visioner), berkemauan kuat (passion), menguasai perubahan, berintegritas tinggi, pembelajar yang tekun, amanah (trust) dan berani mengambil resiko (courage).

4. KEBERSAMAAN
Kebersamaan, ukhuwah atau persaudaraan disebutkan al-Quran surat ali Imran (3) ayat 112 sebagai solusi yang ampuh untuk menghindarkan masyarakat dari dzillah : kehancuran, kehinahan, kebinasan dan keterpurukan. Allah berfirman, “ Mereka diliputi kehinaan di mana pun mereka berada, kecuali mereka berpegang pada tali Allah dan tali kemanusiaan…”.

Habl min Allah, tali agama Allah adalah nilai agama yang dilandasi semangat tauhid, yang menurut Asghar Ali Engginer, pemikir muslim asal India, merupakan suatu kesatuan manusia (unity of mankind). Dalam konteks ini, bahwa masyarakat muslim tidak membenarkan adanya diskriminasi dalam bentuk apa pun, agama, kelas, ras, gender, Masyarakat tauhid sejati yang diajarkan Rasulullah, sesungguhnya mempunyai tugas untuk menjamin nilai kesatuan dan keutuhan yang sempurna. Yaitu dengan menghilangkan adanya dominasi yang kuat terhadap kelompok yang lemah dan dilemahkan. Oleh karena itu, apabila terjadi diskriminasi di antara sesama umat manusia, maka hal itu sama saja dengan adanya pengingkaran terhadap pembentukan masyarakat yang adil.
Habl min an-nas, hubungan dengan sesama manusia adalah sebuah komitmen untuk menghormati segala upaya perubahan ke arah yang lebih baik, bisa berupa kesepakatan, keputusan maupun aturan yang disepakati bersama. Contohnya adalah kehidupan berbangsa seperti di Indonesia yang mempunyai plural dan majemuk. Karenanya, menurut mantan Rais Aam PBNU KH Ahmad Siddik ukhuwah itu ada tiga:ukhuwah islamiyah (sesama muslim), ukhuwah wathoniyah (sesama anak bangsa), dan ukhuwah basyariyah (sesama manusia).

Al-Mizan menambahkan satu lagi hubungan yang penting yaitu habl min al-alam, hubungan dengan lingkungan. Hal ini penting karena di tengah krisis ekologi dan perusakan alam yang kian parah, kaum beragama seharusnya menggugat sikap keberagamaannya. Bukankah kaum beragama seharusnya menjadi pelopor untuk melestarikan alam semesta dan kehidupan, bukan sebaliknya justru ikut merusaknya?. Ini dimulai dengan perbaikan cara pandang dan tindakan langsung dalam upaya pelestraian lingkuangan. Menurut Rais Aam PBNU K.H.M.A. Sahal Mahfudz, krisis ekologi terjadi karena sikap dan pandangan (world view) manusia terhadap alam yang keliru.

5. KEMASHLAHATAN
Dalam sebuah kaidah ushul fikih disebutkan, “ tasharruf al-imam ‘ala ar-raiyyah manuthun bi al-mashlahah, kebijakan pemerintah pada warga negaranya harus diorientasikan pada kesejahteraan. Kesejahteraan itu harus bersifat esebsial yang menyentuh kesejahteraan umum, mencegah keruksakan, dan tidak bertentangan dengan ketentuan (kontrak) yang telah disepakati umum.
Al-Mizan sebagi lembaga pendidikan harus terus mengembangkan wacana keagamaan kritis, penguatan teologi pembebasan. Sebagai sub-kultur al-Mizan harus pengembangan kultur masyarakat yang berorientasi pada perubahan sosial dan penciptaan keadilan sosial. Kesemuanya diarahkan pada pengorganisasian sumber daya pesantren dan masyarakat pendukungnya menjadi sebuah kekuatan strategis yang bisa mengisi ruang-ruang pengambilan kebijakan publik dan memastikan kebijakan publik yang tercipta bernafaskan keadilan.