Sejarah

Sejarah Al-Mizan Jatiwangi

Sejarah, Spirit, Nilai & Pemikiran

Sejarah pendirian

AL-MIZAN berawal dari keinginan luhur keluarga Haji Muhammad Kosim Fauzan dan istri, Hj. UmmiKultsum, untuk mengembangkan dakwah Islam sekaligus menjadi benteng akidah umat dari kecenderungan materialisme di masyarakat dan dekadensi moral di kalangan generasi muda.

Keinginan luhur ini dimanifestasikan dengan dibangunnya Masjid dan Madrasah Diniyah (MD) serta mengirimkan putera-puterinya ke pondok-pondok pesantren di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan JawaTimur.

Pada tahun 1992 dirintis Taman Kanak-Kanak Al-Quran dan Taman Pendidikan Al-Quran (TKA-TPA) oleh (Almaghfurllah.) KH. Muhammad Taufiq Firdaus dengan jumlah siswa/i kurang lebih 200 anak. Tiga tahun kemudian sekitar tahun 1995, didirikanlah MajlisTa’lim (MT) ibu-ibu, Shalat Jumat, dan Pengajian Santri Kalong oleh KH. Maman Imanulhaq di bawah bimbingan (Almaghfurlah) KH. Ahmad Fauzi dengan nama Ath-Thoyyibah. Baru tahun 1999 pengajian tidak hanya diperuntukkan bagi santri kalong akan tetapi mulai menerima santri pelajar yang mukim(mondok) di AL-MIZAN, yaitu dengan jumlah santri/siswa awal sebanyak 50 anak. Kemudian di tahun yang sama dibentuk pula Pengajian Muhasabah di beberapa kota di Jawa Barat dan SII (Studi Islam Intensif) yang kesemuanya itu diprakarsai oleh KH. MamanImanulhaq, Ustadz Ramdhan, dan Ustadz Hamdan.

Tahun 2002 MTs. Al-Mizan didirikan. Tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 2005, SMA Islam Al-Mizan terwujud. Selanjutnya, pada tahun 2014, SMK Ma’arif Al-Mizan berdiri. Pada Februari Tahun 2018, SDIT Al-Mizan didirikan melengkapi lembaga-lembaga pendidikan Al-Mizan yang telah ada sebelumnya.

Seluruh lembaga-lembaga Al-Mizan tersebut, termasuk Pondok Pesantren berada di bawah naungan Yayasan Al-Mizan Langensari. Untuk memenuhi legalitas formal, maka pada tahun 2000 di hadapan Notaris dibentuklah Badan Penyelenggara Pendidikan di Al-Mizan yaitu denga nnama Yayasan Al-Mizan yang sekarang menjadi Yayasan Al-Mizan Langensari dengan moto: “Mengibarkan Panji Cinta Sejati dan Persaudaraan Abadi.”

Spirit Al-Mizan

AL-MIZAN terinspirasi oleh Al-Quran Surat Al-Rahman (55) ayat 9, “Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu”.

Dua  nilai yang dipetiksebagai modal kehidupan dalam ayat di atas adalah: menegakkan keadilan dan menolak kehancuran tatanan sunatullah.

Dalam gerak perjuangannya, Al-Mizan direfleksikan sebagai ikhtiar dalam membangun tradisi keilmuan yang meletakkan pengetahuan agama sebagai mainstream dalam menyusun strategi kebudayaan yang adiluhung menuju sebuah tatanan masyarakat yang cerdas, berdaya saing, terbuka dan berkeadilan.

Gagasan strategis yang diusung adalah: mempertemukan sejumlah pemikiran kritis yang emasipatoris, eksploratif dan liberatif. Merekonstruksi nilai keberagamaan dan keberimanan dalam konteks yang lebih luas dan majemuk. Menjalin kerjasama yang sinergis dengan semua lapisan, semua kalangan dengan semangat saling mengenal, menghargai,dan menguntungkan untuk kemanusiaan.

Landasan filosofis yang tercermin dalam nama Al-Mizan adalah Reflektif keagamaan terhadap realitas kehidupan: peradaban, keadilan, nilai keagaaman, dan persatuan yang terpuruk. Sehingga melahirkan masyarakat yang mengalami kekerasan, ketidakadilan, pembedaan (diskriminasi), dan peminggiran (marjinalisasi) baik secara struktural maupun kultural.

Segala ikhtiar transformative tersebut diorientasikan dapat mengubah kehidupan umat manusia ke arah yang lebih adil,  humanis, demokratis, pluralis, toleran, dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia, baik pada tataran structural maupun kultural: Generasi Qurani yang membangun masyarakat Rabbani demi Keridhoan Ilahi.

Pesantren Al-Mizan, seperti juga pesantren lainya, mempunyai tradisi (al-turâts) khas yang merupakan khazanah kejiwaan (makhzun al-nafs) yang bersifat material dan immaterial yang digali selama 12 tahun pengabdian Al-Mizan di tengah masyarakat. Tradisi ini bila dikembangkan untuk melahirkan pribadi yang berkarakter kuat, punya integritas dan pemikiran yang progresif-transformatif. Karakter ini akan bersifat fleksibel dan toleran sehingga jauh dari watak radikal, apalagi ekstrem, misalnya dalam menyikapi masalah sosial, politik, maupun kebangsaan. Karena punya watak dan tradisi yang fleksibel dan toleran, maka para santri Al-Mizan akan mampu menjembatani problem keotentikan dan kemodernan (musykilah al-ashalah wa al-hadatsah) secara harmonis.

Dunia berkembang dan berubah dengan sangat cepat, mendadak dan tidak menentu. Perubahan yang pasti akan mewarnai perjalanan Al-Mizan secara fundamental. Sejak beridri hingga sekarang kiprah Al-Mizan dalam bidang pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat telah mampu menunjukkan eksistensi, konsistensi dan manfaat bagi masyarakat.

Nilai dan pemikiran Al-Mizan

KOMPETISI yang ketat di masa yang akan datang mempunyai dimensi utama pada peningkatkan kesejahteraan ekonomi. Maka dalam era yang seperti ini, kedudukan sebuah “ideology” akan berperan dalam mengembangkan kemampuan bersaing. Maka berbagai pemikiran, ide, gagasan, kebijakan, prilaku keseharian, kegiatan sosial dan budaya, serta respon masyarakat terhadap kiprah Al-Mizan selama ini yang diidentifikasikan menjadi nilai ke al-mizanan sebagai makhzun an-nafsiyang bersifat material dan imaterial dikembangkan untuk melahirkan pemikiran yang progresif-transformatif dalam upaya membangun masyarakat.

Nilai ke al-mizanan ini digali dan dirumuskan untuk membangun pertalian bathin (‘alaqoh ar-ruh) antar warga Al-Mizan, memberi pedoman dan pegangan bagi tercapainya kebersaman antar lembaga dan warga di Al-Mizan dalam memperjuangkan kepentingan masa depan kehidupan yang lebih baik dengan semangat keberagaman, kesetaraan, dan harmoni.

Dari sisi ini, Al-Mizan adalah sebuah cara pandang dan metode bagi seluruh warga Al-Mizan untuk membangun tradisi keilmuan, menyusun strategi kebudayaan, dan memujudkan tatanan masyarakat yang cerdas, berdaya saing, terbuka dan berkeadilan.

Dari Al-Mizan diharapkan akan lahir generasi yang mempunyai karakter qurani dan memegang teguh nilai-nilai Islami.  Pribadi-pribadi yang dapat diandalkan sebagai agen perubahan yang akan mensosialisasikan nilai nilai cinta kasih, persaudaraan, prinsip keadilan sosial, kemashlahatan dan kerahmatan semesta di tengah kehidupan berbangsa, bernegara serta dalam kehidupan global.

Sejarah Al-Mizan Jatiwangi
Foto: Muadz