Sejuta Kenangan Dibalik Cerita Pabrik Gula dan Tebu Jatiwangi

Sejuta Kenangan Dibalik Cerita Pabrik Gula dan Tebu Jatiwangi

Ade Duryawan MTs Al-Mizan
Guru MTs Al-Mizan Jatiwangi

Dulu, sentral pertanian tersebar di beberapa titik di wilayah desa Ciborelang, antara lain sebelah Utara, yakni wilayah blok Song Song dan Blok Sukamelang. Begitu pula di sebelah Selatan, yakni blok Dukuh Sari. Bahkan, digambarkan konon pada tahun 1950-an, sebagian besar kedua wilayah itu, sejauh mata memandang hamparan sawah dan ladang.

Tidak seperti dulu. kondisi lahan Ciborelang telah berbeda. Lahan produktif terus menyusut. Sawah banyak beralih fungsi menjadi pemukiman, kantor, pertokoan, lahan pendidikan, dan lain-lain.

Didukung oleh lahan pertanian yang cukup luas, pada masanya, di wilayah kecamatan Jatiwangi, Ciborelang sempat menjadi salah satu desa lumbung padi.

Tidak hanya padi, sebagian lahan di sekitar Ciborelang ditanami pohon tebu, seperti halnya di blok Kawao, blok Jum’at, Perum Asabri, dan Serang. Banyaknya kebun tebu ini, terkait erat dengan keberadaan Pabrik Gula Jatiwangi sebagai salah satu denyut nadi kehidupan masyarakat setempat kala itu.

Pabrik Gula Jatiwangi merupakan peninggalan zaman Belanda. Letaknya tidak jauh dari desa Ciborelang, kurang lebih 2 km sebelah barat. Seiring keberadaan pabrik itu, kebon tebu di Ciborelang telah ada cukup lama dan terakhir sampai dengan tahun 1980-an.

Lahan tebu dan keberadaan Pabrik Gula Jatiwangi memberikan nuansa tersendiri bagi Warga Ciborelang.

Ngarorod: Lambang Keberanian

Tebu yang diangkut gotrok yang ditarik sepur sepanjang perjalanan dari kebun menuju pabrik, seringkali mengalami pencurian. Pelakunya tidak lain adalah warga yang dilalui gotrok, atau siapapun yang kebetulan melintas.

Pengambilan Tebu dari gotrok yang sedang berjalan ini dikenal dengan istilah: “Ngarorod”.

Keberhasilan seseorang dalam hal Ngarorod, menjadi lambang keberanian di mata teman-temannya.

Tebu Markonah

Ada cara sederhana menikmati air tebu agar terasa nikmat, yakni langsung mengisap airnya dari batang tebu yang telah dikupas kulitnya. Caranya sangat sederhana. Setelah dikupas, tebu dikerat-kerat melintang batang. Lalu dipotong berdasarkan keratan itu, terus langsung digigit. Setelah dihisap airnya, lalu sepahnya dibuang. Lewat cara konserfativ ini, air tebu terasa lebih nikmat.

Salah satu jenis tebu yang banyak diminati di daerah Ciborelang dan sekitarnya, adalah Tebu jenis Markonah. Ukuran batangnya besar, berwarna hijau, dan bertekstur tidak keras. Jenis ini sangat enak untuk dinikmati: paling manis di antara jenis lainnya selain mudah dipotong untuk dihisap saripatinya.

Tebu Markonah ini oleh orang pabrik disebut jenis PS 3016. Selain Maarkonah, sebetulnya dikenal pula jenis tebu yang lain. Ada jenis tebu PS 41. Tebu ini berwarna hitam. Karenanya warga menyebutnya ”tiwu hideung”. Selain itu, ada yang disebut tebu roti. Jenis ini teksturnya lebih empuk dan rasanya tidak manis.

Nah, untuk sisa atau ujung tebu yang mati, yang warnanya kehitam-hitaman warga Ciborelang menyebutnya: Cako. Cako ini dimanfaatkan warga untuk kayu bakar.

Untuk menambah citra rasa tebu Markonah biasanya penduduk Ciborelang dan sekitarnya melakukan beberapa cara olahan sederhana. Ada 3 (tiga) cara mengolah tebu yang umum dilakukan, yakni:

Cara Pertama, adalah dengan cara tebu dikupas, kemudian dipotong-potong melintang secukup mulut. Kemudian dibuat tusukan kecil dari bambu, dengan pangkal bambu tetap menyatu. Jadilah terlihat seperti jari-jari tangan kita yang ujungnya menyatu, atau mirip seperti susunan sapu lidi.

Tebu yang kecil-kecil itu di tusuk-tusuk seperti sate. Selanjutnya, Tebu yang berupa rencengan tusukan di jemur diterik matahari selama 3 – 4 hari. Setelah itu, baru bisa dinikmati dengan cara dihisap. Tercium aroma dan rasa berbeda. Tebu yang tersaji dengan cara ini disebut “Rancungan”.

Cara Kedua, Batang Tebu tanpa dikupas kulitnya langsung direndam ke dalam air. Setelah lebih kurang satu minggu, baru dikupas dan dipotong-potong. Ini rasanya akan lain dengan cara pertama, mungkin kadar alkoholnya terbentuk. Semakin lama direndam, semakin terasa bau aromanya.

Cara Ketiga, adalah dengan dibakar. Batangan tebu yang tanpa dikupas, dimasukan langsung ke tungku kayu bakar, yang ditataran Sunda dinamakan Hawu. Bila telah dipanaskan secukupnya, tebu yang telah dibakar itu didinginkan dan dikupas kulitnya. Kemudian dipotong-potong kecil untuk dinikmati. Yang ini rasanya lain lagi dan wanginya khas.

Itulah kreasi orang kampung untuk menikmati berbagai rasa dan aroma Tebu.

Hamparan Bunga Tebu dan Hujung

Setiap pohon tebu memiliki satu batang bunga. Ujungnya merupakan sekumpulan helai-helai putih bertekstur lembut. Jika angin bertiup, bunga-bunga tebu berhamburan terbang membentuk hamparan luas berwarna putih. Sebuah lukisan keindahan alam kampung yang mempesona.

Batang bunga-bunga Tebu, menjadi bagian tidak terpisahkan dari keceriaan permainan anak-anak Ciborelang sebagai bahan berbagai mainan anak-anak.

Sedangkan saat Tebu sudah tumbuh tinggi, daun-daunnya yang panjang dan tua, secara alami biasanya mengering, dan menempel di batang-batang pohon. Warga Ciborelang, memanfaatkan daun-daun kering ini sebagai pengganti kayu bakar untuk memasak di tungku-tungku atau “hawu”.

Bagi yang rajin daun-daun tebu itu dimanfaatkan untuk keperluan lain. Caranya daun-daun tebu ditumpuk merata dan diikat di bagian tertentu, seperti membuat Rumbia. Rajutan daun Tebu kering ini, di Ciborelang dikenal luas dengan sebutan “hujung”.

Hujung biasa dipakai sebagai atap kandang ternak, pabrik bata, pabrik genteng, atap saung sawah atau bahkan atap rumah pengganti genting.

Sang Sinder dan Lori

Mulai dari musim tanam hingga musim tebang, Petinggi atau Staff dari Pabrik Gula sering melakukan pengontrolan langsung ke lapangan. Petinggi ini biasa disebut “Sinder”. Sang Sinder ini berpakaian Dinas dengan stelan khas warna abu-abu-telor asin atau putih. Memakai Topi khas yang disebut debur, bergaya Kolonial. Sinder ini tidak lepas dari tongkat hoe di tangannnya, dan bersepatu hansip.

Semua pekerja kebun hormat sekali kepada Sinder ini. Saat mengontrol, Sang Sinder menaiki Lori, seperti sebuah Beca, namun berjalan di atas rel kereta dengan pengayuh di belakangnya. Lori ini tanpa atap.

Terdapat 3 (tiga) jalur yang kerap dilalui Lori, yakni: jalur Jatiwangi-Ligung, Jatiwangi-Salawana, dan Jatiwangi-Sukaraja. Upah Sopir Lori waktu itu sebesar Rp. 2500/hari. Gaji diberikan seminggu sekali, setiap hari Sabtu.

Sengong dan Beletin

Di Pabrik Gula Jatiwangi terdapat Menara sebagai lubang pembuangan asap selama proses produksi gula berlangsung. Pada waktu-waktu tertentu tekanan uapnya dikeluarkan dan terdengarlah suara yang keras berbunyi Hong…!. Warga Ciborelang menamakan suara ini dengan sebutan “Sengong”.

Pabrik Gula Jatiwangi
Foto: Ade Duryawan

Suara Sengong terdengar membahana sejauh radius puluhan kilometer. Sengong itu pertanda giling tebu yang dalam sehari berbunyi sebanyak 3 (tiga) kali pada jam-jam tertentu: jam 9 pagi, 4 sore dan jam 1 dini hari.

Selain Sengong ada suara khas lain yang berasal dari pabrik gula, yang orang Ciborelang dan sekitar menyebutnya ”beletin”. Beletin ini suaranya melenting panjang seperti peluit sebagai pertanda masuk kerja bagi pegawai pabrik gula.

Suara beletin mengingatkannya pada masa-masa sekolah SD dulu. Beletin ini dijadikan patokan jam oleh anak-anak untuk berangkat ke sekolah di pagi hari. ”Tah geus kadenge beletin, buru-buru mangkat sakola, bisik kabeurangan! ” (Tuh, sudah terdengar beletin, segera berangkat sekolah, barangali kesiangan!). Kalimat itulah yang kerapkali terucap dari para orang tua dulu untuk mengingatkan akan-anaknya agar bergegas berangkat ke sekolah.

Selama bulan Ramadhan suara beletin terdengar sebagai penanda berbuka puasa dan imsak. “Buru saurna, bisi kaburu beletin!” (Cepat sahurnya, nanti keburu beletin!). Dengan kalimat itu, biasanya orang-orang saling mengingatkan ketika waktu imsak akan segera tiba. Begitupun untuk berbuka puasa beletin selalu dijadikan patokan.

Pabrik Gula Jatiwangi
Foto: Ade Duryawan

Gotrok dan Sepur

Tebu yang telah dipotong akan diangkut ke atas Kereta Api yang menarik deretan rangkaian Lori, yang di Ciborelang disebut Gotrok. Setiap Gotrok panjangnya tidak lebih dari panjang rata-rata batang Tebu.

Gotrok merupakan alat transportasi utama untuk mengangkut tebu dari perkebunan menuju pabrik gula. Gotrok ini berjalan pada jalur-jalur rel yang melintasi kebun-kebun tebu dan bermuara di pabrik gula Jatiwangi.

Jalur rel Gotrok itu, secara tidak langsung juga menghubungkan desa-desa sekitar wilayah Jatiwangi. Di wilayah sebelah utara, rel menjalar mulai dari pabrik gula tembus ke desa Ciborelang, Desa Loji dan berujung di Dusun Koja Desa Cisambeng.

Usai dipakai pagi hingga sore hari, gotrok-gotrok kosong ditarik kembali ke Pabrik. Tapi tidak semua gotrok sempat terangkut. Gotrok-gotrok yang masih tertinggal di kebun, seringkali dijadikan mainan anak-anak.

Ada satu permainan yang masih diingat oleh Anak-anak Ciborelang menyebutnya: ”adu gotrok”. Mula-mula kedua gotrok ditarik mundur berlawanan arah. Selanjutnya, dengan sekuat tenaga gotrok-gotrok itu didorong maju hingga bertabrakan dan mengeluarkan bunyi yang cukup keras: drak..!.

Bagi anak-anak masa itu, adu gotrok sangat menghibur, walaupun tentu sebenarnya sangat beresiko.

Di luar musim tebang atau tanam, praktis rel kereta api ini tidak banyak digunakan. Kalaupun ada hanya dipakai oleh Lori, saat Sang Sinder mengontrol Kebun tebu.
Rel kosong, di beberapa desa digunakan sebagai jalan transportasi dari desa menuju ke kota Kecamatan Jatiwangi untuk berbelanja berbagai kebutuhan sehari-hari.

Gotrok cukup ditarik dan didorong oleh 2 orang, gotrok melaju perlahan memecah kesucian pagi. Terdengar bunyi khas putaran roda gotrok yang berjalan perlahan memecah kesunyian: Dikdak…dikdak…dikdak !.. mengiringi anggukan kantuk penumpangnya !.

Gotrok-gotrok ditarik oleh Kereta Api yang disebut “Sepur”. Sepur ini termasuk barang langka. Umurnya lebih dari setengah abad, peninggalan Zaman Belanda dulu.

Dengan menerapkan teknologi sederhana, sepur digerakkan oleh mesin uap. Bahan bakarnya pun cukup dari hasil pembakaran dari ampas gilingan tebu, sisa gilingan dari pabrik.

Jika tidak salah, Pabrik Gula Jatiwangi memiliki 6 (enam) unit Sepur. Setiap Sepur memiliki nama. Pernah diberi nama tokoh-tokoh Wayang, seperti: Semar, Bima, Arjuna, dan sebagainya. Namun, pernah pula diganti dengan memakai nama hewan, Bison, Badak, Banteng dan Gajah.

Sebagai tanda komunikasi saat jalan, Sepur ini mengeluarkan bunyi seperti peluit sebagai klaksonnya. Bunyi ini berasal dari mesin uapnya. Uniknya, setiap Sepur memiliki warna suara khas tersendiri.

Berdirian : Pesta Giling Tebu

Ketika Tebu telah siap ditebang, inilah saat yang dinanti-nantikan. Bukan saja oleh pihak Pabrik Gula, tetapi oleh penduduk sekitar Jatiwangi, di mana pabrik gula berada, termasuk warga Ciborelang.

Menjelang tebu ditebang, Pabrik Gula akan menggelar rangkaian pesta giling yang menjadi hiburan tersendiri. Pesta giling, adalah Pesta Pabrik Gula yang sekaligus juga pesta bagi rakyat sekitar. Pesta Giling Tebu ini terkenal dengan sebutan: “Berdirian”.

Prosesi pesta berlangsung meriah. Diawali dengan pengambilan tebu yang akan dipotong pertama kali sebanyak dua batang. Prosesi ini disebut ”Ngala Indung”. Kedua batang yang diambil tadi, lalu dibungkus kain putih, layaknya sepasang Pengantin.

“Panganten Tiwu” lalu diarak dari kebun menuju Pabrik diikuti oleh arak-arakan warga yang mengular di belakangnya. Terlihat sepanjang jalan, suasananya sangat ramai sekali.

Upacara tradisi ini sebagai wujud ungkapan rasa terima kasih kepada Sang Maha Pencipta yang telah memberikan limpahan panen Tebu.

Setelah prosesi arak-arakan itu, diselenggarakanlah pesta rakyat yang dimeriahkan oleh pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk, setelah sebelumnya digelar pentas kesenian Kuda Renggong. Tidak ketinggalan pasar kaget yang lazim disebut “Berdirian” atau ”korsel” digelar selama satu minggu. Pasar dadakan ini dipusatkan di sekitar kompleks pabrik gula.

Berdirian digelar pada bulan April setiap tahun bersamaan masa potong tebu. Berdirian adalah ajang mengais rezeki bagi Pedagang Kaki Lima (PKL) untuk menjual beraneka macam dagangan mulai dari baju, barang pecah belah, peralatan rumah tangga, aksesoris, dan mainan anak.

Selama berdirian aneka kuliner makanan dan minuman dijajakan mulai dari baso, martabak, marus, harummanis atau sering disebut raramatan, es campur, es tiwu, dan lain-lain. Tidak ketinggalan kuliner khas berdirian, yakni: rajungan.

Di sudut-sudut yang lapang, berbagai atraksi permainan tersedia di sana, seperti: Korsel (Komidí Putar), Tong Setan, Ombak Banyu, Rumah Hantu, dan mobil kereta. Dengan ongkos yang murah meriah, macam-macam permainan itu bisa dinikmati oleh pengunjung.

Dalam menyambut “Berdirian”, sebagian warga Ciborelang mempersiapkan bekal jauh hari sebelumnya dengan menabung selama setahun hingga bertemu Berdirian pada tahun berikutnya.

Bagi anak-anak, Berdirian ini adalah kesempatan di luar lebaran untuk dibelikan baju atau mainan baru oleh orang tuanya. Bagi pasangan muda-mudi, berdirian merupakan salah satu tempat favorite untuk menghabiskan waktu bersama sang pujaan hati. Sedangkan bagi yang masih singel, berdirian adalah kesempatan emas untuk berburu pacar, atau bahkan mencari pasangan hidup.

Berdirian menyimpan kenangan tersendiri. Ada satu tontonan yang hampir tidak pernah ia lewatkan, yakni ”pentas wayang kulit semalam suntuk”.

Selain Wayang, layar tancap yang digelar di lahan lapang depan salah satu gudang pabrik merupakan tontonan khas yang lain. Sembari duduk di atas jalur-jalur rel, pasangan muda-mudi tampak asyik menonton film yang diputar sambil menyantap rajungan.

Semua Tinggal Kenangan

Berbagai keunikan dan kekhasan masyarakat petani dengan keindahan hamparan sawah yang luas juga keberadaan perkebunan tebu dan Pabrik Gula Jatiwangi, kini tinggal kenangan.

Kuliner dari bahan tebu, kini sulit lagi kita temukan. Anak-anak Ciborelang generasi masa sekarang tentu lebih paham sosis, es krim, KFC, atau Kentucky dari pada rancungan, apalagi tahu resep meraciknya.

Kebun tebu dengan keindahan hamparan bunga tebu, kini telah berganti menjadi pemukiman Perum Asabri. Pesonanya, mungkin tak akan bisa dinikmati lagi.
Auman bunyi beletin yang khas selama bulan puasa Ramadhan, dan yang setiap pagi mengingatkan anak-anak berangkat sekolah, sejak 15 tahun terakhir, nyaris tidak pernah terdengar lagi.

Gotrok pun hanya tinggal kenangan, bahkan nama itu akan terdengar asing di telinga anak-anak. Sedangkan Berdirian, pestanya rakyat kecil, lama tidak pernah diadakan. Tidak akan pernah ada kisah cinta bersemi di berdirian lagi.

Cerita-cerita seputar kebun tebu dan pabrik gula, kini hanya tersimpan dalam memori sebagian kecil warga Ciborelang, terkubur dalam-dalam bersama puing-puing bekas kompleks bangunan kantor dan pabrik gula Jatiwangi yang kini tinggal hamparan lahan kosong. [ ].

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.