Spirit Maulid: Meneladani Akhlaqul Karimah Nabi

Spirit Maulid: Meneladani Akhlaqul Karimah Nabi

Ade Durywan
Ade Duryawan
Sekretaris Yayasan Al-Mizan Langensari

Kelahiran seorang Muhammad bin Abdullah, cucu dari Abdul Mutholib tokoh Quraisy yang disegani di Mekkah bagaikan setetes embun yang menyejukkan di tengah panasnya padang yang gersang. Muhammad laksana pelita bagi bangsa Arab yang pada saat itu terjerembab dalam masa kesuraman.

Sekian lama masyarakat Arab menjadi bangsa yang terpuruk. Tenggelam dalam kebejadan moral. Berada dalam kondisi sosial di mana nilai-nilai kemanusiaan tak dihargai. Sebuah zaman yang pada saat itu dikenal dengan “Zaman Jahiliyah” (Zaman Kebodohan). Zaman itu merupakan zaman kegelapan di mana hati nurani terbelenggu oleh nafsu angkara. Sementara, kekuasaan adalah segala-galanya yang menutupi mata hati. Kala itu, perbudakan lumrah dilpraktekkan oleh masyarakat di sana. Martabat perempuan diinjak-injak, tidak ada harganya sama sekali. Yang kaya menindas yang miskin. Penguasa atau elit-elit suku bagaikan raja-raja kecil. Dengan otoritas kekuasaannya, dengan mengatasnamakan Tuhan mereka tindas orang-orang yang lemah yang tak berdaya.

Di tengah kondisi bobroknya moralitas waktu itu, Muhammad muncul bagaikan cahaya dalam kegelapan. Ia laksana embun penyejuk. Sebagai Nabi dan Rosul terakhir, ia menebar Islam : agama yang “rahmatan lil ‘âlamîn” (menjadi rahmat bagi semesta alam). Tauhid merupakan inti ajaran dari agama yang dibawanya itu. Sebuah kesaksian bahwa Tuhan itu tunggal, satu-satunya pemilik kedudukan tertinggi. Karenanya, di hadapan Tuhan seluruh makhluk itu setara, tanpa kecuali.

Sang pencerah yang dijuluki “Al-Amin” itu lahir di Mekkah pada 20 April 571 M atau 12 Robiul Awwal pada tahun yang dikenal dalam sejarah sebagai ”Tahun Gajah”. Tanda-tanda kenabiannya telah terlihat sejak awal. Di masa kanak-kanak saat usianya menginjak 4 tahun, Muhammad kecil berjumpa Jibril. Dadanya dibelah. Dari dalam dadanya itu dikeluarkan segumpal daging yaitu hati. Dari hatinya itu dikeluarkan segumpal darah hitam. Jibril membuang sifat-sifat kotor dan memasukkan sifat-sifat baik ke dalam hati Nabi Muhammad SAW.

Menginjak usia 12 tahun, tanda kenabian Muhammad kembali terbaca. Pada waktu berdagang di negeri Syam bersama pamannya, Abu Tholib, ia berjumpa Bakhiro, seorang pendeta yang menyebutkan jika Muhammad memiliki ciri-ciri kenabian sebagaimana dikhabarkan dalam Taurat dan Injil.

Pada saatnya tiba, Muhammad pun benar-benar diangkat sebagai Nabi oleh Allah dalam usia 40 tahun. Wahyu pertama diterima saat dirinya berkhalwat di gua Hiro. Jibril menuntunnya membaca Al-Alaq tepat masuk pada hari ke 17 di bulan Ramadhan.

Selama menjalankan misi kenabian dan kerosulan, tantangan yang dihadapi Nabi luar biasa besar. Namun tekad Nabi tidak pernah surut. Tidak jarang ia memperoleh perlakuan kasar, intimidasi, dilecehkan, dihina, bahkan ancaman pembunuhan. Namun Nabi tidak pernah membalas penzaliman terhadap dirinya. Ketika ada perempuan yang selalu melempari Nabi dengan kotoran setiap kali Nabi melewati rumah perempuan itu, Nabi tidak pernah dendam atau sakit hati. Justru Ia menengok perempuan tersebut saat terbaring sakit. Di Thoif, ketika menyerukan agar penduduk kota itu memeluk Islam, Nabi dilempari batu hingga kepalanya terluka dan berdarah. Namun, Nabi malah berdoa agar Allah SWT mengampuni seluruh penduduk Thoif yang telah mendholiminya itu.

Begitulah, selama kurang lebih tiga belas tahun berdakwah di Mekkah, Nabi acapkali memperoleh hujatan, hinaan, ancaman, dan perlakuan-perlakuan lain yang mengancam keselamatan jiwanya. Karena situasi Mekkah kian tidak menentu, ditambah tercium sebuah rencana jahat pembunuhan terhadap Nabi, Nabi akhirnya berhijrah ke Madinah atau Yatsrib. Dengan diliputi rasa sedih yang dalam, Nabi tinggalkan tanah kelahiran dan Kabah yang dicintainya untuk kemudian kembali dengan sebuah kemenangan besar.

Segala hambatan, tantangan dan ancaman selama berdakwah di Mekkah dan Madinah dihadapi Nabi dengan ketabahan dan kesabaran. Tidak terbersit perasaan dendam sedikitpun terhadap musuh-musuhnya. Suatu sikap mulia yang patut menjadi Suri Tauladan (Uswatun Hasanah). Inilah salah satu bentuk konsistensi antara perkataan Nabi dengan perbuatannya. Sabda Nabi :”Innama Buitstu Liutammima Makarimal Akhlak”. Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.

Demikian, ”Akhlakul Karimah” sejak semula merupakan daya tarik yang terpancar dari sosok Muhammad, baik sebelum maupun setelah diangkat sebagai Nabi dan Rosul. Setidaknya ada 4 (empat) sifat pembentuk akhlak mulia itu yakni : Tablig (cerdas), Amanah (dapat dipercaya), Fathonah (rajin), dan sidik (benar). Kesemuanya merupakan sifat-sifat yang saat ini teramat sulit ditemui di negeri ini, yang justru sebaliknya penuh dengan ketidakjujuran, kebohongan, kemunafikan, ketidakadilan, sogok-menyogok, jual beli hukum, korupsi, mafia pajak, anarkhisme, dan kebejadan-kebejadan moral lainnya.

Spirit Maulid Nabi kali ini hendaklah dijadikan sebagai titik tolak bagi perubahan moralitas bangsa ini. Mari kita ambil hikmahnya dengan meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Seyogyanya sifat-sifat terpuji beliau ditanamkan dalam diri kita masing-masing serta anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa ini agar mereka terbentuk menjadi sosok yang berkarakter: yakni sosok yang kuat dalam prinsip, teguh dalam pendirian, serta menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas dan kemanusiaan. Semoga !

Wallahu’alam bisshowab. [ ].

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.