SYIAR DENGAN KELEMBUTAN

Oleh : Ade Duryawan
[Sekretaris Yayasan Al Mizan Langensari, Bendahara GP Ansor Kabupaten Majalengka]

Kekerasan bukanlah bagian integral dari Islam. Sejak pertama kali dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, ajaran Islam ditebarkan dengan kelembutan. Al Qur’an sendiri menjelaskan bahwa kata Islam merupakan penegasian dari konsep kekerasan. Satu sisi Islam berarti penyerahan diri kepada Allah, pada sisi lain berarti menebarkan perdamaian dalam masyarakat melalui aksi dan perbuatan.

Anti-kekerasan , sesungguhnya itulah makna hakiki yang terkandung dalam Islam. Konsep tersebut dapat ditemukan dalam beberapa bentuk manifestasi, baik mistik maupun etik, misalnya dalam empat konsep kunci yang tersirat dalam Al Qur’an, yaitu adl (keadilan), ihsan (berbuat baik), rahmah (kasih sayang), dan hikmah (kebijaksanaan). Keseluruhan konsep itu adalah bagian dari sifat dasar yang aktifistik dan positif, yang diarahkan kepada umat manusia untuk berbuat kebaikan kepada sesamanya.

Dalam ibadah, konsep nilai-nilai itupun harus termanifestasikan dalam rangka membangun relasi kemanusiaan (hablumminannas) yang egaliter demi terwujudnya kemaslahatan bersama. Sesungguhnya seluruh ibadah itu tidak pernah terlepas dari konteks menegakkan keadilan, menebarkan kebaikan dan kasih sayang, serta mencapai kebijaksanaan. Ibadah bukanlah ritual belaka. Shalat misalnya, mencerminkan nilai keadilan, pemenuhan hak, dan pelaksanaan tanggungjawab dalam relasi pemimpin dan yang dipimpin. Di dalam makna zakat terkandung nilai perintah untuk berbagi kebaikan antar sesama manusia dengan menafikan perbedaan status sosial dan golongan.

Adapun melalui ibadah puasa sesungguhnya kita diajari untuk menyelami kehidupan orang miskin. Kita dapat belajar dari jerih payah mereka. Disamping kita diajarkan untuk bisa mengendalikan hawa nafsu dan angkara murka agar tidak berbuat kezaliman kepada orang lain. Sementara, ibadah Haji menyiratkan nilai-nilai kesetaraan, persamaan, dan persaudaraan sejati tanpa mengenal perbedaan baik status sosial, suku, ras, bangsa, negara, golongan, dan perbedaan lahiriah lainnya.

Demikianlah, ibadah dalam Islam selain mengandung makna transedental, ia harus senantiasa berelasi kuat dengan konteks kehidupan sosial.

*Konsep Dakwah Anti-Kekerasan*

Sebagai pembawa risalah Tuhan, Nabi Muhammad SAW merupakan sosok tauladan yang harus ditiru oleh umatnya. Sejak semula Nabi telah meletakkan konsep dakwah yang anti-kekerasan. Pribadi sederhana dan mulya itu mampu meluluhkan dan menarik simpatik orang-orang yang semula membenci dan memusuhinya. Nabi sukses besar menyampaikan ajaran dan gagasan Islam, pada saat nilai-nilai ajarannya terang-terangan bersebrangan dengan arus tradisi-budaya lokal masyarakat Arab yang telah begitu kuat mengakar.

Sejarah menunjukkan misi Islam dan gagasan besar kemanusiaan disampaikan Nabi melalui sikap pribadinya yang lembut yang anti kekerasan. Nabi Muhammad SAW berada di tengah realitas dan konteks sosial yang dipenuhi kekerasan, kezaliman, dan kekacauan moral. Akan tetapi, Nabi justru muncul dengan menampilkan pribadi lembut dan penuh kasih sayang sesuai pesan Allah SWT. ; “maka disebabkan rahmat (kasih sayang) Tuhanlah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (Q.S. Ali Imron, 3:159).

Di Mekkah kehidupan Nabi penuh dengan penderitaan, namun Nabi tidak pernah mengeluh. Seringkali Nabi mendapatkan perlakukan menyakitkan dan dilukai secara fisik. Pernah seorang perempuan kerapkali melempari Nabi dengan kotoran yang telah dikumpulkannya setiap kali Nabi melewati rumahnya. Nabi justru menjenguk perempuan itu, ketika diketahui ia sakit. Di Thaif, ketika berdakwah Nabi dilempari batu oleh penduduk setempat. Darah yang mengucur dari lukanya, tidak membuat Nabi marah dan membalas perlakuan kejam mereka. Sebaliknya, Nabi malah berdo’a agar Allah memberikan petunjuk dan mengampuni kekhilafan penduduk kota itu.

Sikap anti-kekerasan konsisten dilakukan oleh Nabi, tidak hanya ketika posisinya masih lemah dengan jumlah pengikut yang sedikit. Namun, pada saat memimpin Madinah dengan jumlah pengikut yang besar pun, sikap Nabi tidak pernah berubah. Ia tetap sebagai pribadi yang lembut yang senantiasa mendorong perdamaian dan ketentraman.

Di Madinah, Nabi menggagas dan mengajarkan kehidupan yang dilandasi nilai-nilai persamaan, kesetaraan, dan persaudaraan. Prinsip-prinsip itulah yang kemudian dituangkan dalam piagam Madinah. Sebuah kontrak sosial yang menjamin keamanan warga Madinah non muslim yang beragama Yahudi/Nasrani atau pemeluk agama lainnya.

Tampak, persatuan dan kesatuan masyarakat dijadikan hal yang prinsip yang diutamakan oleh Nabi. Madinah dibangun di atas kemajemukan warganya yang beranekaragam keyakinan yang dianutnya. Warga non Muslim tidak pernah dipaksa untuk memeluk Islam. Bahkan, Nabi membiarkan mereka beribadah sesuai keyakinannya. Nabi selalu mengajak dengan arif (hikmah), nasihat baik dan berdiskusi dengan cara yang baik dan terbuka. “La tasribu ‘alaikum al yaum, idzabu fa antum thulaqa, Yasiru wa la tu’assiru, basysyiru wa la tunaffiru” (tidak ada balas dendam pada hari ini, pulanglah kalian sekarang kalian bebas, permudahkanlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan membuat takut), begitulah seruan Nabi ketika awal mula menegakkan Daulah Islam di Madinah.

*Al-Qur’an dan Semangat Perdamaian*

Sejak semula, Islam datang dengan damai. Ia disebarkan dengan prinsip-prinsip perdamaian pula. Orang Muslim tidak diperbolehkan melakukan pemaksaan, serta membiarkan kekerasan dalam menyiarkan agama. Tidak ada paksaan dalam agama, demikian Al Qur’an tegaskan berulangkali dalam ayat-ayat yang berkesinambungan antara lain dalam Q.S. At-taubah 9:6 yang berbunyi : “jika seorang di antara orang-orang musyrikin meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya dia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui”.

Secara gamblang Al Qur’an pun mengajarkan bagaimana cara menyebarkan Islam. Al Qur’an menyebutkan : “Ajaklah ke jalan Allah dengan bijaksana dan nasehat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik pula”. Jelas bahwa dakwah yang dianjurkan adalah dakwah yang harus dilakukan dengan bijaksana. Seorang Muslim harus mempertahankan sesuatu dengan argumentasi menyakinkan beserta penjelasan yang sangat mungkin bisa diterima.

Konsep jihad tidak dijustifikasi sebagai mekanisme yang melegalkan cara-cara kekerasan dalam menyebarkan Islam. Al Qur’an memperbolehkan perang melawan hegemoni demi menangkal penindasan dan ekspolitasi. Jihad tidak dipahami secara sempit, melainkan dalam perspektif yang lebih luas bahwa Islam bukan sekedar agama tetapi juga merupakan sebuah gerakan sosial. Islam tidak sebatas merubah kepercayaan-kepercayaan keagamaan, tetapi juga struktur sosial, membangun masyarakat adil yang berpihak kepada golongan lemah dan tertindas. Dalam hal ini Al Qur’an mengisyaratkan : “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi”. (Q.S. Al Qasas 28 : 5).

Islam sebagai gerakan sosial mengisyaratkan sebuah proses sosial dalam membangun suatu tatanan peradaban. Islam harus dapat memberikan alternative jalan keluar bagi berbagai problematika kehidupan sosial-budaya yang menghimpit umat. Sebuah peradaban dimana nilai-nilai keadilan, persamaan-kesetaraan, dan kebersamaan ditegakkan. Untuk itu, perdamaian menjadi pilihan yang tidak bisa dielakkan. Karena peradaban masyarakat tidak akan pernah dapat dibangun dalam situasi kekacauan dan keributan.

Perdamaian menjadi nilai esensial bagi Islam. Tidak ada satupun dari konsep kunci yang diajarkan Al Qur’an yang berupa adil, ihsan,rahmah, dan hikmah, yang kesemuanya itu mengarah pada kekerasan. Konsep dakwah sejatinya tidak pernah terlepas dari nilai-nilai egalitarian dan perdamaian, sehingga Islam betul-betul dapat dirasakan menjadi “rahmatan lil alamin” bagi siapapun. Bukan penebar teror dan kekerasan sebagaimana yang selama ini distigmatisasi oleh sebagian kalangan tertentu. [ ]

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.