Ternyata Pencipta Lagu ”Hari Merdeka” itu Seorang Habib

Lagu “Hari Merdeka” atau yang populer disebut “17 Agustus 1945” seringkali terdengar setiapkali menjelang perayaan hari Kemerdekaan RI.

Sang pencipta lagu tersebut, ternyata seorang habib keturunan Rasulullah yang sederhana, cerdas dan sangat mencintai Indonesia. Nama lengkapnya Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar atau yang lebih dikenal dengan nama H. Mutahar. Dia lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 5 Agustus 1916.

Salah satu keturunannya adalah Habib Umar Semarang, mubaligh masyhur karena ceramah yang damai, humoris dan cinta Indonesia!

H. Mutahar adalah seorang komponis musik Indonesia, terutama untuk kategori lagu kebangsaan dan anak-anak. Banyak lagu ciptaannya yang menempel di benak anak-anak sekolah, karena mudah dihapal dan mengibarkan semangat berjuang dan penuh nilai-nilai kebaikan. Lagu ciptaannya yang populer adalah hymne Syukur (diperkenalkan Januari 1945) dan mars Hari Merdeka (1946).

H. Mutahar ternyata salah satu tokoh yang aktif di kegiatan kepanduan. Saat gerakan kepanduan dilebur menjadi Gerakan Pramuka, H. Mutahar ikut aktif di dalamnya. H. Mutahar juga tercatat sebagai tokoh yang turut membidani lahirnya Pasukan Pengibar bendera Pusaka (Paskibraka).

Selain itu, H. Mutahar juga tercatat pernah terlibat dalam ‘pertempuran lima hari’ di Semarang. Pertempuran itu adalah pertempuran rakyat Indonesia melawan tentara Jepang pada masa peralihan kekuasaan setelah Belanda memerintah di Indonesia. Peristiwa itu terjadi pada 15 Oktober 1945 hingga 20 Oktober 1945.

Sopir pribadi Bung Karno saat perang, pengawal Bung Karno saat haji dan Orang yang dipercaya Bung Karno untuk menyelamatkan bendera pusaka saat Belanda melumpuhkan Yogyakarta pada tahun 1948 itu, wafat pada tanggal 9 Juni tahun 2004 pukul 16.30. Dua bulan menjelang ulang tahunnya yang ke-88.

Beliau dimakamkan sebagai rakyat biasa di tempat pemakaman umum (TPU) Jeruk Purut Jakarta Selatan. Semestinya beliau berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara kenegaraan sebagaimana penghargaan yang lazim diberikan para pahlawan. Tetapi beliau tidak menginginkan itu. Itu sesuai dengan wasiat beliau. [ ]

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.