Wajah Indonesia Ada di Pesantren Al-Mizan

Wajah Indonesia Ada di Pesantren Al-Mizan

GKR Hemas
Anggota DPD RI

Dalam beberapa kali kesempatan, saya pernah berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. Secara pribadi, kebetulan saya mengenal baik Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan tersebut, KH. Maman Imanulhaq. Kami sama-sama pendiri dan aktif di Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), aliansi keberagaman kebudayaan dan kepercayaan, yang bekerja untuk mempertahankan Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa yang beragam dan menjunjung konstitusi.

Bagi saya, Al-Mizan adalah Pondok Pesantren yang istimewa. Al-Mizan merupakan sedikit dari pesantren di Indonesia yang menanamkan kepada para santri dan siswanya tentang keberagaman yang dihidupkan tidak cuma dalam proses pendidikan, tetapi juga lewat seni, tradisi dan budaya nusantara. Di pesantren ini pula ditanamkan tentang kemanusiaan, pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Di pesantren yang didirikan sejak tahun 1999, para santri tidak lagi melihat perbedaaan sebagai suatu yang menghalangi untuk menjalin kerjasama dan bersosialisasi. Al-Mizan pernah dikunjungi oleh tokoh-tokoh Nasional dan lokal lintas agama seperti: pendeta, pastur, dan tokoh agama lain juga. Kunjungan dan dialog lintas agama dan antar agama juga pernah dilakukan di pesantren ini. Intinya, kita akan menyaksikan “wajah” Indonesia di pesantren ini.

Dipimpin oleh kang Maman, figure pemimpin pondok yang moderat, pesantren ini mempromosikan nilai-nilai kesantunan dan toleransi yang menafikan sekat-sekat primodialisme, suku dan ras, bahkan perbedaan agama & keyakinan.

Pesantren Al-Mizan, jelas bisa kita jadikan contoh konkret bagi pemecahan mengenai masalah kebhinekaan di negeri kita yang plural dan kaya keberagaman ini, yang seringkali memicu konflik & perselisihan horizontal.

Banyak peristiwa yang bisa dirujuk sebagai contoh telah “dicederainya” kemajemukan bangsa ini. Masalah kebangnsaan kita acapkali berhadapan dengan problem pluralitas yang semakin sulit dihargai. Akar kekerasan masih sering dipicu oleh hilangnya hal-hal yang dianggap sederhana dan sepele seperti toleransi dan penghormatan nilai-nilai kemanusiaan.

Karena itu, untuk menjalankan kehidupan beragama dengan spirit kebersamaan antar pemeluk yang menjunjung semangat toleransi masih menghadapi tantangan yang tidak kecil. Walaupun wacana keberagaman dan toleransi antar agama ini sudah sering dikemukakan dalam berbagai wacana public, namun praktiknya tidaklah semudah yang dipikirkan dan dibicarakan.

Dari Al-Mizan, Saya melihat seberkas sinar harapan yang menerangi optimisme masa depan toleransi di negeri ini menjadi lebih baik. Saya melihat di pesantren ini kemoderatan dan toleransi antar agama sudah dipraktikkan oleh para santrinya. Saya seperti melihat prototife Indonesia di pesantren ini : pesantren yang tetap teguh menganut Islam Ahlussunah Waljamaah yaitu Islam yang ramah, toleran, menghargai perbedaan, dan cinta tanah air. [ ]

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.