Wuquf: Arena Persaudaraan Umat Manusia

Oleh : KH. Husein Muhammad
Pengasuh PP. Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon

“Sungguh, orang-orang yang beriman kepada Tuhan adalah bersaudara”.
(Al-Qur’an)

Bila waktu yang ditunggu-tunggu tiba, yaitu tanggal 8 dan 9 Dzhulhijjah, para jama’ah haji mulai bergerak bersama dan serentak, berbondong-bondong bagai gelombang lautan meninggalkan kota Makkah menuju ke suatu tanah tandus, maha luas, bernama Arafah. Di sinilah puncak ritual kolosal ini berlangsung. “Al Hajj Arafah” kata nabi besar Muhammad saw. Sebagian ada yang ke Mina dulu, menginap lalu pagi-pagi berangkat ke Arafah.

Ketika Nabi dulu berhaji, beliau datang ke tempat ini dengan untanya, sesudah sebelumnya bermalam di Mina (Tanggal 08 Zul Hijjah). Tetapi hari ini banyak cara bisa dilakukan orang; jalan kaki, naik Elf, bus pertengahan atau bus besar, bahkan konon, kelak rangkaian kereta listrik (trem) bakal mengantar para tamu Allah itu ke Mina, begitu matahari tanggal 09 zulhijjah, tenggelam. Di sini jutaan tangan di bawah tenda, di atas tanah terhampar atau di puncak bukit, ditadahkan ke langit biru, mengharap ampunan dan Rahmat Tuhan.

Dalam sebuah hadits disebutkan :

اِنَّ اللهَ يُبَاهِى بِاَهْلِ عَرَفَات اَهْلَ السَّمَآءِ, فَيَقُولُ لَهُمْ: أُنْظُرُوا اِلَى عِبَادِى. جَآؤُا اِلَيَّ شَعْثًا غُبْراً. (رواه احمد وابن ماجه فى صحيحه)
“Allah menunjukkan kebanggaan di hadapn para Malaikat di Langit, terhadap orang-orang yang ada di Arafat. Dia mengatakan : “Lihatlah hamba-hamba-Ku itu. Mereka datang kepada-Ku dengan penampilan lusuh dan rambut berdebu”. (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).
Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits :

مَا مَنْ يَوْمٍ أكْثَرُ مِنْ اَنْ يَعْتِقَ اللهُ فِيهِ عَبِيداً مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ. وَإِنَّهُ لَيَدْنُو يَتَجَلَّى ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمْ فَيَقُولُ مَا اَرَادَ هَؤُلَاءِ. (رواه مسلم).
“tidak ada hari di mana Allah paling banyak memberikan jaminan bebas dari api neraka kepada hamba-hamba-Nya selain pada hari Arafah. Dia mendekat dan memperlihatkan Diri, lalu mengatakan dengan bangga : “Apakah yang mereka minta dari-Ku?” .
Razin, seorang perawi lain atas hadits ini menambahkan :

إِشْهَدُوا مَلَائِكَتِى. إِنِّى قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ
“Hai Malaikat-Ku, saksikanlah. Aku mengampuni dosa-dosa mereka”.

Makna hafriyahnya “wuquf” adalah berhenti atau berdiam diri sejenak di sebuah tempat, medan maha luas. Dalam ibadah haji Wuquf berarti berada di Arafat, pada tanggal 9 zhulhijjah, untuk berizikir, berdoa dan berkontempelasi tentang diri dan makna hidup dan kehidupan ini. Ritual ini merupakan rukun atau inti dari ibadah haji. “Al Hajj Arafah”, kata Nabi. Maka siapapun dia dan dalam keadaan apapun, termasuk yang sedang sakit harus berada di sini. Ini merupakan kegiatan yang paling utama dan inilah puncak segala proses haji. Begitu utamanya sehingga para jamaah yang tidak sempat berada di tempat ini, belum dianggap telah melaksanakan haji. Dia harus mengulangi hajinya pada kesempatan yang lain. Bumi Arafah, sejak tanggal 8 dzhulhijjah begitu padat manusia.

Al-Mizan Jatiwangi

Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian & kemanusiaan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berfikir, terbuka dalam bersikap, berdaya saing tinggi & berkeadilan dalam tatanan kehidupan.